Melawan Lupa di Piasan Pase: Saat Langkahan Membawa Nestapa Banjir ke Tengah Pesta

Stan Langkahan Aceh Utara di Landing
Pengunjung tampak khidmat memerhatikan deretan foto perjuangan warga Langkahan pascabencana yang dipamerkan di Stan Kecamatan Langkahan. Foto: Zulfadli Kawom

Oleh: Zulfadli Kawom

Sebuah pemandangan kontras yang menyentuh hati langsung menarik perhatian saya saat berkunjung ke stan Expo Pembangunan Aceh Utara, Rabu, 9 September 2026. Di tengah kemeriahan perayaan Milad Samudra Pasai dan Hari Jadi Kabupaten Aceh Utara yang diklaim telah berusia 800 tahun, ada satu sudut yang membawa pesan mendalam bagi siapa saja yang melintas.

Stan pameran Kecamatan Langkahan berhasil memantik rasa penasaran dan menjadi pusat perhatian ratusan pengunjung. Pemandangan di stan ini terasa sangat berbeda. Padahal, sembilan bulan lalu, bencana mengerikan serupa juga melanda kecamatan-kecamatan lain di Aceh Utara. Namun di tempat lain, jejak nestapa itu seolah menguap begitu saja dan telah dilupakan.

Berlokasi di Pelataran Kantor Bupati Aceh Utara, Lapangan Landing, Lhoksukon, stan ini menyuguhkan daya tarik yang unik. Mereka memadukan durian unggulan khas Langkahan yang tersohor lezat dengan eksibisi galeri foto dokumenter penanggulangan banjir.

Sejak hari pertama pembukaan pameran Piasan Pase 2026, aroma harum durian dari stan ini sukses memikat masyarakat dan wisatawan. Buah durian yang dipamerkan merupakan hasil panen terbaik dari perkebunan warga di perbukitan Langkahan, yang diakui memiliki kualitas rasa manis, legit, dan berdaging tebal.

Namun, saat langkah kaki membawa pengunjung lebih dekat, ada sudut yang seketika menghentikan tawa. Sudut dinding stan itu memamerkan deretan foto dokumentasi saat musibah banjir bandang melanda Kecamatan Langkahan pada akhir November 2025 lalu. Guratan duka dan perjuangan tergambar jelas di sana.

[Salah satu foto dokumenter yang dipajang memperlihatkan sisa harta benda warga yang berhasil diselamatkan saat banjir bandang melanda Desa Geudumbak akhir tahun lalu. Foto: Zulfadli Kawom]

Bagi pembaca di luar daerah, perlu dipahami betapa masifnya bencana hidrometeorologi yang menerjang Langkahan pada 26 November 2025 tersebut. Banjir bandang kala itu bukan sekadar genangan air biasa, melainkan terjangan arus dahsyat yang membawa ribuan gelondongan kayu hutan raksasa. Di beberapa desa seperti Geudumbak dan Buket Linteung, sekitar 80 hingga 95 persen rumah warga hilang total tersapu arus atau tertimbun lumpur tebal. Sawah dan perkebunan yang menjadi tumpuan ekonomi luluh lantak, memaksa ribuan jiwa bertahan berbulan-bulan di tenda pengungsian darurat dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.

Foto-foto di stan ini memperlihatkan kembali momen kritis tersebut: bagaimana warga bertahan di tengah kepungan air, potret wilayah yang porak-poranda, serta kesiapsiagaan jajaran pemerintah bersama unsur TNI, Polri, dan relawan dalam menyalurkan bantuan serta mengevakuasi masyarakat selama masa tanggap darurat.

Camat Langkahan, T. Reza Ichwan, menyampaikan bahwa keikutsertaan stan ini menjadi momentum emas untuk mempromosikan potensi agrowisata sekaligus menunjukkan ketangguhan masyarakat daerahnya yang menolak menyerah pada keadaan.

“Kami sengaja membawa komoditi durian andalan Langkahan ke pameran ini untuk menunjukkan potensi ekonomi kami,” ujar T. Reza Ichwan saat menyambut para pengunjung di stan.

Ia menambahkan, “Di sisi lain, lewat pameran foto banjir ini, kami ingin memperlihatkan realita tantangan geografis yang kami hadapi sekaligus bukti ketangguhan, solidaritas, dan bangkitnya masyarakat Langkahan pascabencana”.

[Kontras di tengah kemeriahan expo, pameran foto dokumenter ini menyuguhkan realita pahit perjuangan warga Desa Geudumbak saat membersihkan puing rumah dan material banjir bandang. Foto: Zulfadli Kawom]

Antusiasme pengunjung terlihat dari antrean yang memadati area stan. Mereka datang untuk mencicipi durian segar, sembari menyimak dengan takzim rentetan foto dokumenter banjir tersebut. Banyak pengunjung yang memberikan apresiasi atas konsep stan yang dinilai sangat humanis, jujur, dan informatif ini.

Melalui ajang Milad Samudra Pasai ini, Camat T. Reza Ichwan berharap sektor agrowisata durian di Langkahan mendapat perhatian lebih luas demi mendongkrak perekonomian para petani lokal, sekaligus memperkuat mitigasi bencana jangka panjang di wilayah tersebut.

Lebih dari sekadar ruang pameran, Stan Langkahan adalah sebuah pengingat sunyi bagi kita semua bahwa pemulihan pascabencana banjir belum benar-benar pulih seutuhnya. Di balik senyum ramah penjaga stan, ada pesan kuat bahwa masyarakat harus bangkit—dan terkadang harus berjuang sendiri—demi perbaikan hunian, ekonomi, dan budaya mereka. Di tanah Langkahan, masyarakat adalah aktor utama; mereka adalah subjek, bukan sekadar objek dari sebuah pembangunan.[]

Baca Juga: Mengapa Angka 622 Hijriah Dijadikan Titik Awal Perhitungan Usia Aceh Utara?

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy