Aceh Tengah

Pengungsi Bintang Pepara Jadi Buruh Harian, Sepakat Relokasi ke Jalan Tengah

Pengungsi Bintang Pepara jadi buruh harian
Kaum ibu korban bencana alam di Bintang Pepara mulai bekerja sebagai buruh harian. Foto direkam saat mereka diwawancarai tim Prokopim Setda Aceh Tengah, Sabtu, 3 Januari 2026. Foto: Prokopim Aceh Tengah

Takengon – Pengungsi korban bencana alam di Kampung Bintang Pepara, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah, mulai mencari nafkah sebagai buruh harian untuk menyambung hidup.

Salah satunya, Sri Murni. Sudah lebih dari sebulan dia bersama puluhan keluarga lainnya mengungsi di SMP Negeri 32 Takengon.

Kebutuhan pokok mereka masih sangat bergantung pada bantuan, yang kerap terhambat akibat akses jalan terputus. Distribusi logistik hanya bisa melalui udara.

Di tengah keterbatasan itu, Sri Murni dan warga lainnya memilih bekerja sebagai buruh upah harian. “Ngutip cabe di bukit, upahnya sekitar Rp50 ribu sehari. Itu untuk makan anak-anak. Alhamdulillah, bisa bertahan,” kata Sri kepada tim Prokopim Setda Aceh Tengah, Sabtu, 3 Januari 2026.

Sri menyebut kebutuhan mendesak saat ini tempat tinggal. Dia dan keluarga lainnya berharap segera dipindahkan dari lokasi pengungsian, mengingat aktivitas sekolah akan segera berjalan.

“Kami kepingin cepat pindah. Rumah gubuk pun tak apa, yang penting aman. Kami sudah takut kembali ke kampung lama, sudah tidak layak lagi,” ujar Sri, dilansir laman Pemkab Aceh Tengah, Minggu (4/1).

Reje Kampung Bintang Pepara, Misran, mengatakan saat ini 99 KK atau 360 jiwa warganya mengungsi. Ketersediaan logistik pangan diperkirakan hanya cukup untuk empat-lima hari ke depan. Kebutuhan air bersih menjadi persoalan paling mendesak.

“Listrik belum berfungsi, kami masih mengandalkan genset bantuan pemerintah. Ekonomi masyarakat juga berat, rata-rata hanya dapat sekitar Rp50 ribu perhari dari pekerjaan serabutan,” ungkap Misran.

Sepakat Relokasi

Menjelang bulan Ramadan, masyarakat berharap hunian sementara (huntara) segera dibangun. Masyarakat sepakat untuk direlokasi ke tempat lebih aman demi keselamatan jangka panjang.

“Kami bersama masyarakat sudah sepakat. Di manapun direlokasi nanti untuk hunian sementara, kami siap. Yang penting kami bisa tinggal aman,” ucap Misran.

Kesepakatan ini disampaikan dalam kunjungan Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga, ke lokasi pengungsian masyarakat Bintang Pepara di SMP Negeri 32 Takengon, Sabtu (3/1).

Pemkab Aceh Tengah memastikan relokasi sementara dilakukan ke Kampung Jalan Tengah, Kecamatan Ketol, tepatnya di lapangan sepak bola, sembari menyiapkan huntara dan hunian tetap (huntap).

Pemerintah memastikan proses percepatan pembangunan huntara terus dikawal agar warga tidak terlalu lama hidup di pengungsian.

“Untuk stok logistik, beras dan kebutuhan pokok sudah kami siapkan sampai hari raya. Semua lengkap. Tidak perlu khawatir soal makan,” ujar Haili di hadapan para pengungsi.

Haili juga memastikan kebutuhan sandang dan perlengkapan rumah tangga telah tersedia perkepala keluarga. Mulai dari selimut, pakaian, perlengkapan dapur hingga seragam sekolah anak-anak.

“Setelah kita lihat kondisi ini, memang harus pindah ke sebelah, ke Jalan Tengah. Untuk sementara kita siapkan hunian sementara, satu rumah satu KK, agar lebih nyaman dan bisa memasak sendiri,” ujar Haili.

Haili menegaskan huntap tidak boleh ditunda terlalu lama dan akan segera dibahas bersama masyarakat. Pemerintah juga akan memberikan biaya hidup kepada masyarakat selama masa tinggal di huntara.

“Nanti ada biaya hidup yang ditanggung pemerintah. Jadi, ibu-ibu tidak perlu khawatir. Yang paling penting hari ini, anak-anak harus tetap sekolah. Tidak ada alasan. Pagi belajar, sore mengaji. Mereka harus kuat,” ucapnya.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy