Perangi Narkoba, Eks Presiden Filipina Bentuk Pasukan Pembunuh Berisi Gangster dan Polisi

duterte getty images
Mantan Presiden Filipina Rodrigo Duterte. Foto: Getty Images

Manila – Mantan Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengaku pernah membentuk pasukan pembunuh yang berisikan anggota polisi dan gangster. Duterte membentuk Filipina saat ia masih menjabat sebagai wali kota Davao City–salah satu kota terbesar di negara itu. Dia mengaku regu pembunuh itu dibentuk untuk memerangi kejahatan terutama narkoba.

Duterte kini tengah menjalani penyelidikan Senat Filipina terkait kampanye antinarkobanya yang menewaskan ribuan orang. Dia lengser dari kursi presiden pada 2022 lalu.

Melansir BBC, dalam kesaksian pertamanya di hadapan penyelidikan resmi terkait apa yang disebutnya perang melawan narkoba, pria berusia 79 tahun itu mengatakan regu pembunuh itu terdiri dari gangster.

“Bunuh orang ini, karena kalau tidak, saya akan membunuhmu sekarang,” ucap Duterte mengulangi perintahnya kepada regu pembunuh di hadapan Senat, Senin, 28 Oktober 2024.

Duterte memenangi kursi kepresidenan dengan telak pada 2016 dengan janji mengulangi kampanye anti-kejahatan di kota Davao pada skala nasional.

Baca Juga: Eks Wali Kota dari Filipina Ditangkap di Indonesia, Dituduh Mata-mata Cina

Perang narkoba nasional telah menewaskan ribuan tersangka dalam operasi polisi yang kontroversial dan sekarang sedang diselidiki oleh Pengadilan Kriminal Internasional.

Dalam sidang senat hari Senin, Duterte juga mengatakan ia meminta polisi “mendorong” tersangka melawan sehingga petugas dapat membenarkan pembunuhan tersebut.

“Jangan pertanyakan kebijakan saya karena saya tidak meminta maaf, tidak ada alasan. Saya melakukan apa yang harus saya lakukan, dan terlepas dari apakah Anda percaya atau tidak… Saya melakukannya untuk negara saya,” kata Duterte dalam pernyataan pembukaannya.

“Saya benci narkoba, jangan salah paham.”

Baca Juga: Kominfo Perintahkan NAP Putuskan Akses Internet Judi Online Kamboja dan Filipina

Namun, ia membantah memberikan izin kepada kepala polisi untuk membunuh tersangka, dan menambahkan bahwa “regu pembunuh”-nya terdiri dari “gangster… bukan polisi”.

“Saya bisa membuat pengakuan sekarang jika Anda mau. Saya punya regu pembunuh yang beranggotakan tujuh orang, tetapi mereka bukan polisi, mereka gangster.”

Duterte juga tetap menantang, mengklaim banyak penjahat telah melanjutkan kegiatan ilegal mereka setelah ia mengundurkan diri sebagai presiden.

“Jika diberi kesempatan lagi, aku akan memusnahkan kalian semua.”

Sebelum pernyataannya di depan Senat, Duterte seperti dikutip dari Reuters menjelaskan anggota kelompok pembunuh tersebut terdiri dari polisi. “Itu tugas polisi,” ujarnya.

Saat masih menjabat sebagai presiden, dua orang mantan polisi sudah bersaksi di hadapan anggota senat Filipina bahwa mereka merupakan anggota kelompok pembunuh yang digunakan Duterte untuk mengamankan negaranya.

Pemerintah Filipina memperkirakan lebih dari 6.252 orang telah ditembak mati oleh polisi dan “penyerang tak dikenal” dalam “perang melawan narkoba” Duterte. Kelompok hak asasi manusia mengatakan jumlah sebenarnya bisa mencapai puluhan ribu.

Laporan sebelumnya oleh Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia menemukan bahwa tindakan keras Duterte terhadap narkoba ditandai oleh retorika tingkat tinggi yang dapat dilihat sebagai pemberian “izin untuk membunuh” kepada polisi.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy