Petaling Jaya – Jagat media sosial hari ini tidak hanya menjadi wadah berbagi informasi, tetapi juga mulai bergeser menjadi panggung normalisasi konten tanpa manfaat demi meraup atensi publik. Fenomena mengkhawatirkan ini memicu keprihatinan mendalam dari pendakwah selebritas, Haris Ismail, atau yang akrab disapa PU Riz.
Melansir Utusan Malaysia, 26 Mei 2026, suami dari selebritas ternama Neelofa ini secara terbuka meluahkan kegelisahannya melalui platform Threads. Ia menyoroti realitas miris di mana nilai-nilai akal sehat seolah dikesampingkan demi sebuah popularitas instan.
“Lagi bodoh, lagi trending. Dulu ada seorang cendekiawan berkata, ‘orang bodoh diangkat, orang-orang cerdik dibelakangkan’. Makin bodoh, kadang-kadang makin diangkat,” ungkap PU Riz dengan nada kesal.
Ia juga mengaku heran melihat bagaimana kehidupan privasi seseorang begitu mudah diumbar ke publik demi sebuah konten digital. “Orang yang tenang duduk dalam rumah elok-elok, tiba-tiba cerita cerai yang keluar. Bagaimana boleh berlaku kita pun tidak tahu dan pening apabila difikirkan semula,” tambahnya.
Soroti Eksploitasi Anak Demi Angka Tontonan
Sisi humanis dan naluri sebagai orang tua membuat PU Riz melayangkan kritik tajam terhadap sikap sebagian orang tua zaman sekarang. Tanpa memikirkan dampak jangka panjang bagi masa depan anak, banyak orang tua yang justru sengaja mengeksploitasi anak-anak mereka di dunia maya demi mengejar angka tontonan (views).
“Ibu ayah yang di TikTok mula libatkan anak joget sama-sama. Mak pula yang arah adik buat begini bagi nampak seksi, solek tebal-tebal. Maka jogetlah mereka disaksikan seluruh dunia,” tuturnya.
PU Riz menyayangkan sikap abai tersebut, di mana kelalaian ini justru dianggap sebagai sebuah kesenangan saat konten sang anak berhasil viral. “Maka makin meriah kedunguan yang berlaku lalu diikuti,” tegasnya.
Miris dengan Penolakan Terhadap Nasihat Agama
Tidak berhenti di situ, pendakwah ini juga menyuarakan rasa kecewanya terhadap segelintir netizen yang menutup telinga dari teguran para ulama atau asatizah. Alih-alih melakukan introspeksi, pihak yang menegur justru sering kali dicap dengan berbagai sentimen negatif.
“Apabila ada asatizah tegur atau orang yang memesan, apa yang ditulis? Penunggang agama, tidak menyeronokkan, kuno, dan paling terbaharu, tidak bersifat terbuka,” keluhnya.
Menurutnya, penolakan masif terhadap kebenaran ini hanya akan membuat pemahaman masyarakat awam terhadap moralitas menjadi tumpul. Sebagai penutup, PU Riz mengingatkan kembali pedoman sederhana dalam menjalani hidup digital maupun nyata.
“Kita dalam hidup ini senang saja mahu tahu perkara itu baik atau buruk, soleh atau tholeh (buruk). Kita ikut sahaja apa yang disebut Allah dan Rasul,” pungkasnya.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy