Puasa Bantu Redakan Kecemasan-Latih Kontrol Diri, Kata Psikolog Klinis

Ilustrasi puasa
Ilustrasi puasa. Foto: freepik.com

Puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjadi sarana melatih kemampuan menunda dorongan. Saat menahan lapar, haus, dan impuls emosional seperti marah atau reaktif, seseorang sedang melatih fungsi eksekutif otak, khususnya area prefrontal cortex yang berperan dalam kontrol diri.

Psikolog Klinis lulusan Magister Universitas Islam Indonesia (UII), Alifa Fadia Ainaya, menjelaskan secara psikologis puasa memperkuat jalur regulasi antara dorongan dan pengambilan keputusan. Dengan demikian, individu tidak langsung bereaksi, melainkan belajar memberi jeda sebelum merespons.

“Mekanismenya bekerja melalui proses pembiasaan. Setiap kali seseorang berhasil menahan respons otomatis, terbentuk pengalaman keberhasilan kecil yang meningkatkan self-efficacy,” ujar Alifa, dilansir NU Online, Ahad, 22 Februari 2026.

Menurut Alifa, pengalaman tersebut memperkuat keyakinan bahwa individu mampu mengelola emosi, bukan dikuasai emosi. Puasa juga meningkatkan self-awareness karena seseorang lebih peka terhadap kondisi internal seperti lapar, lelah, sensitif, atau justru lebih tenang.

Kesadaran terhadap sensasi tubuh (interoceptive awareness) membantu mengenali pola emosi dan pikiran. Selain itu, puasa mendorong suasana reflektif dan evaluasi diri, atau metacognition, yakni kemampuan mengamati pikiran sendiri.

Dalam praktik klinis, peningkatan kesadaran diri menjadi kunci perubahan perilaku. Puasa juga melatih regulasi stres dengan membiasakan diri menghadapi ketidaknyamanan secara terkendali. “Individu belajar bahwa ketidaknyamanan bisa ditoleransi,” ujar Alifa.

Dari sisi spiritual, puasa dan aktivitas keagamaan seperti salat, zikir, serta refleksi diri berkontribusi pada penurunan kecemasan. Spiritualitas menghadirkan makna dan rasa keterhubungan, sehingga menurunkan persepsi ancaman dan membantu menenangkan sistem saraf.

Alifa menambahkan selama puasa terjadi perubahan hormon seperti kortisol, insulin, serta regulasi neurotransmiter serotonin dan dopamin. Pola makan yang terjaga membantu menjaga stabilitas gula darah dan suasana hati.

Sejumlah penelitian juga menunjukkan peningkatan brain-derived neurotrophic factor (BDNF) dalam kondisi puasa tertentu, meski respons biologis bersifat individual.

Dia menegaskan puasa akan berdampak positif bagi kesehatan mental jika dijalani dengan kesadaran, didukung tidur cukup dan nutrisi seimbang. “Puasa bukan ajang menekan emosi, tetapi kesempatan melatih regulasi yang lebih adaptif,” ucapnya.

Namun, jika selama puasa seseorang mengalami serangan panik atau kecemasan berat, dia menyarankan memastikan keamanan fisik dan melakukan teknik grounding atau pernapasan diafragma untuk menenangkan sistem saraf secara bertahap.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy