Medan – Puluhan prajurit TNI dari Batalyon Artileri Medan (Armed) 2/105 Kilap Sumagan, diduga menyerang warga Desa Selamat, Kecamatan Sibiru-Biru, Deli Serdang, Sumatra Utara, Jumat, 8 November 2024, jelang tengah malam.
Dalam peristiwa itu, seorang warga bernama Raden Barus, 60 tahun, tewas akibat dugaan penganiayaan. Sementara beberapa orang luka-luka akibat penyerangan tersebut yang diduga bermula dari saling ejek.
Kepala Desa Selamat, Bahrun, mengatakan Raden keluar dari rumahnya setelah mendengar keributan.
“Sewaktu keluar itu lah, diduga dia dipukuli puluhan oknum TNI. Ada beberapa luka lebam di bagian tubuhnya,” ujar Bahrun saat diwawancarai di lokasi, Minggu, 10 November 2024.
Raden meninggal dunia saat dibawa ke rumah sakit. Kepala Unit Reskrim Polsek Sibiru-biru, Ipda Natan Simatupang, mengatakan korban meninggal dunia dengan kepala terluka parah, wajah lebam dan luka akibat benda tajam di punggung kiri.
Seorang warga Desa Selamat, Herna mengatakan, selain menewaskan Raden Barus, ada enam orang lainnya luka-luka usai dianiaya oleh sejumlah tentara. Sebagian korban masih dirawat di rumah sakit.
“Dibunuh tentara ini masyarakat kami, semuanya tujuh orang, satu yang meninggal dan enam yang luka-luka. Tentara yang datang banyak, asal siapa yang buka pintu langsung diserang. Kami tak tahu masalahnya apa, enggak ada kami bermusuhan sama Armed ini,” kata Herna.
Sementara itu Rofikar Sanjaya Tarigan, warga yang menjadi korban penganiayan mengatakan, peristiwa tersebut terjadi pada Jumat sekira pukul 23.00 WIB.
Segerombolan orang berambut cepak dan berbadan kekar mendatangi Desa Selamat dengan membawa senjata tajam. Mereka menganiaya warga. Sejumlah warga lainnya yang saat itu mengetahui adanya keributan di kampungnya mencoba untuk keluar rumah, namun malah diserang oleh segerombolan pelaku tersebut.
“Saya keluar dari rumah untuk beli rokok, dan begitu saya keluar ada keramaian masuk kampung, langsung saya lari ke rumah nenek. Didobrak orang itu [pintu] rumah dan mereka bertanya mana adik saya yang bernama Andre Ginting gitu. Setelah itu saya buka [pintu] karena takut rusak dan saya keluar habis itu saya dipukuli, udah gitu saya juga dibawa ke asrama Armed, “kata Rofikar.
Kodam Benarkan Adanya Penyerangan
Kepala Penerangan Kodam I Bukit Barisan Kolonel Dody Yudha membenarkan peristiwa penyerangan tersebut. Berdasarkan pemeriksaan Pomdam I Bukit Barisan, 33 prajurit TNI diduga terlibat dalam peristiwa itu.
“Setelah dilakukan pemeriksaan, yang diduga terkonfirmasi (terlibat) ada 33 orang. Oknum pelaku yang sudah terkonfirmasi diduga terlibat sudah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut di Pomdam I Bukit Barisan,” ujar Doddy saat konferensi pers di Media Center Kodam, di Jalan Rotan, Kota Medan, Minggu.
Semua prajurit itu, kata Dody, telah menjalani pemeriksaan lanjutan di Pomdam I Bukit Barisan. Pomdam I Bukit Barisan masih mendalami motif penyerangan. Mereka juga masih menyelidiki keterlibatan prajurit TNI lainnya.
“Hingga saat ini kita masih melakukan penyelidikan. Selain itu, Pangdam juga melakukan mediasi dengan para korban dan warga di kawasan Batalyon Armed 2/Kilap Sumagan,” jelasnya.
Selain itu, kata Dody, delapan korban luka-luka telah dipindahkan dari Rumah Sakit Sembiring ke Rumah Sakit Sakit Putri Hijau untuk mendapatkan perawatan intensif.
Pangdam Minta Maaf
Sementara itu, Panglima Kodam I Bukit Barisan Letjen Mochammad Hasan menyampaikan permintaan maaf atas peristiwa yang terjadi.
“Atas nama keluarga besar Kodam I Bukit Barisan, kami menyampaikan permohonan maaf sedalam-dalamnya atas musibah yang telah terjadi,” ujar Hasan saat mendatangi jambur Desa Selamat, lokasi prosesi adat pemakaman jenazah Raden Barus, Minggu.
Di jambur tersebut, Hasan yang mengenakan kemeja putih memberi hormat kepada jenazah Raden. Dia juga memeluk beberapa anggota keluarga Raden. Hasan juga terlihat melepaskan kaca mata untuk mengusap air matanya.
Keluarga Raden berterima kasih atas kedatangan Hasan. Mereka berharap agar kejadian itu dapat diusut.
“Kami dari pihak keluarga Barus sangat berharap masalah proses hukum yang Bapak janjikan. Kami serahkan ke tangan bapak. Semoga arwah saudara kami diterima Tuhan,” ujar seorang pria yang mewakili keluarga Raden.
Batalyon Artileri Medan 2/Kilap Sumagan atau Yon Armed 2/105/Tarik merupakan satuan bantuan tempur organik di bawah Komando Kodam I/Bukit Barisan. Markas Batalyon ini terletak di Jalan Biru Biru, Pasar VI, Deli Tua, Medan.
Kawasan Deli Tua didiami mayoritas suku Karo. Tak heran, bila tunggul satuan Batalyon ini, Kilap Sumagan, merujuk pada pusaka khas Karo yakni pisau tumbuk lada, yang menjadi lambang kekuatan dan kewibawaan serta harga diri yang tinggi.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy