Aroma Kebersamaan di Ruang Publik:

Menanti Hangatnya Sangerday Fest 2026 di Banda Aceh

Sangerday Fest 2026
Sangerday Fest 2026. Foto: Dokumen Panitia

Banda Aceh, Line1News – Bagi masyarakat Aceh, secangkir kopi sanger bukan sekadar asupan kafein di pagi hari. Di balik kelembutan rasanya, ada filosofi mendalam tentang kebersamaan dan solidaritas sosial. Semangat sosiokultural inilah yang siap diangkat kembali dalam perhelatan tahunan Sangerday Fest 2026.

Sebagai pembuka, rangkaian kegiatan pra-acara (curtain raiser) akan menyapa warga di Museum Tsunami Aceh, Banda Aceh, pada 11-12 September 2026 mendatang. Agenda seru ini menjadi jembatan menuju puncak peringatan Hari Sanger (Sanger Day) yang rutin dirayakan setiap 12 Oktober sejak pertama kali dicetuskan pada 2014 silam.

Istimewanya, Sangerday Fest 2026 kali ini mendapat suntikan energi besar. Acara ini didukung penuh oleh Program Dana Hibah Kebudayaan Kategori Pendayagunaan Ruang Publik Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia Tahun 2025. Fasilitasi institusional tersebut disalurkan melalui sinergi Dana Indonesiaraya—yang dikelola bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP)—sebagai wujud nyata kehadiran negara dalam memajukan kebudayaan lokal sekaligus memutar roda ekonomi kreatif di Serambi Mekah.

Menghidupkan Ruang Ketiga di Museum Tsunami

Ketua Panitia Penyelenggara Sangerday Fest 2026, Nasrul, berbagi cerita mengenai alasan di balik pemilihan Museum Tsunami Aceh sebagai episentrum kegiatan. Pihaknya ingin mengoptimalkan fungsi monumen bersejarah tersebut menjadi ruang ketiga yang lebih dinamis bagi publik.

“Memadukan memori kolektif resiliensi bencana dengan ekspresi kebudayaan urban generasi muda,” kata Nasrul kepada Line1News di Banda Aceh, Rabu, 5 Agustus 2026.

Selama dua hari penuh, sudut-sudut museum akan dihidupkan dengan beragam agenda interaktif yang kental dengan napas budaya kopi dan pemanfaatan ruang publik. Pengunjung bisa menikmati workshop, creative market expo, urban culture performance, hingga aksi seniman lokal merespons dinding lewat seni mural.

Nasrul membocorkan bahwa hari pertama akan dibuka dengan dentuman musik etnik yang syahdu serta ragam pentas seni budaya di panggung utama. Menariknya lagi, semua kemeriahan ini bisa dinikmati oleh siapa saja tanpa perlu merogoh kocek.

“Panitia penyelenggara membuka seluruh rangkaian kegiatan pra-acara ini untuk masyarakat umum, wisatawan, dan komunitas kreatif tanpa dipungut biaya, sebagai upaya mewujudkan panggung kebudayaan yang inklusif dan berkelanjutan,” jelas Nasrul hangat.

Merayakan Secangkir Kopi yang “Sama-Sama Ngerti”

Menilik sejarahnya, sanger memang punya cerita yang sangat humanis. Kopi susu khas Aceh ini lahir dari rahim kreativitas mahasiswa dan kecerdikan pemilik warung kopi lokal pada era 1990-an. Saat krisis melanda, muncullah konsep “Sama-Sama Ngerti” (Sanger)—sebuah kesepakatan rasa dan harga yang adil agar semua kalangan tetap bisa menikmati kopi berkualitas.

Gagasan manis untuk merayakan identitas lokal ini pertama kali diinisiasi oleh Komunitas @iloveaceh bersama Fahmi Yunus pada 2013. Sejak saat itu, gerakan ini terus dirawat secara berkelanjutan demi mendorong produk turunan kopi Aceh naik kelas sebagai ikon ekonomi kreatif yang mandiri.

Bagi Anda pencinta kopi, penikmat seni, atau sekadar ingin merasakan hangatnya kebersamaan warga kota, pastikan untuk meluangkan waktu pada September nanti. Yuk, kita ngopi dan merayakan budaya di Sangerday Fest 2026![]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy