Saat berlayar di perairan Brasil, pasukan USS Potomac Angkatan Laut Amerika Serikat yang dikapteni John Downes, menerima pesan Presiden Andrew Jackson (1767-1845).
Presiden memberikan pesan singkat tapi tegas: siaga tempur. Rupanya, pesan ini berkaitan dengan insiden penyerangan kapal dagang milik Amerika, Friendship, oleh warga Kuala Batu (dulu dikenal dengan nama Quallah Battoo) di kawasan Aceh Barat Daya (Abdya) saat ini.
Buku Seri Informasi Sejarah Kerajaan Kuala Batu yang diterbitkan Kementerian Pendidikan RI pada 2021 menyebutkan Kuala Batu merupakan pemekaran dari Kerajaan Lama Muda. Sedangkan Kerajaan Lama Muda kelanjutan dari Kerajaan Lama Tuha yang hancur diterjang banjir pada pertengahan abad ke-18 (1740).
Penyerbuan terhadap Friendship terjadi pada Februari 1831 saat transaksi lada hitam berlangsung di lepas pantai Kerajaan Kuala Batu.
Ada tiga perahu yang menyerang Friendship. Seorang perwira dan dua anak awak Kapal Friendship tewas. Kargo kapal Amerika itu juga ikut dijarah.
Kapten Charles Endicott dan ABK lainnya melarikan diri ke pelabuhan lain berkat bantuan Po Adam, seorang pebisnis lokal yang fasih berbahasa Inggris.
Dengan bantuan tiga kapten kapal dagang lainnya atas lobi Po Adam, Endicott mendapatkan kapalnya kembali dan berlayar kembali ke Salem, Massachusetts.
Begitu sampai di sana, kabar penyerangan itu meluas dan tiba di telinga Jackson sehingga ia mengirimkan USS Potomac untuk menghukum penduduk Kuala Batu atas kejadian itu.
Jackson memerintahkan Downes segera bertindak. Tugasnya menilai situasi tapi diperbolehkan mengambil langkah apa pun demi memberi pelajaran agar kapal-kapal dagang Amerika di perairan Hindia Timur terjamin keselamatannya.
Setelah menerima perintah, Downes langsung bergerak dengan 300 tentara. Dari Brasil, kapal Potomac melanjutkan pelayaran ribuan kilometer menuju Afrika Selatan, lalu menyeberangi Samudra Hindia demi mencapai Kuala Batu.
Selama dua bulan pelayaran, Downes menyusun siasat. Dia sadar betul tak bisa tiba di perairan Aceh dengan meriam terbuka di geladak dan bendera Amerika yang berkibar di tiang kapal. Pendekatan semacam itu hanya akan memicu perlawanan. Maka, strategi pun diubah.
“Seluruh meriam ditarik ke belakang geladak dan pintu meriam ditutup,” tulis Farish A. Noor dalam Attack, Reprisal and Dealing with the Media Fall-Out: The Battle of Quallah Battoo in 1832 (2014) dilansir CNBC Indonesia.
Sebagai gantinya, USS Potomac akan menyamar sebagai kapal dagang milik Belanda. Ada versi yang menyebut menyamar sebagai kapal dagang Denmark.
Namun, kapal dagang Belanda lebih masuk akal sebab Belanda sudah terbiasa berdagang dengan Aceh. Hubungan dagang itu membuat kehadiran kapal asing berbendera Belanda tak akan menimbulkan kecurigaan.
Perlu dicatat, meskipun Belanda punya koloni besar di Nusantara, Aceh bukan bagian dari jajahan mereka. Aceh saat itu masih kerajaan independen yang tangguh dan berdaulat.
Bahkan, seperti dijelaskan Lee Kam Hing dalam The Sultanate of Aceh (1995), Kesultanan Aceh memiliki hubungan resmi dengan Kesultanan Ottoman di Turki dan Kerajaan Inggris pada abad ke-19.
Setibanya di Kuala Batu, Downes menyuruh para tentara turun dengan dalih berdagang. Padahal, mereka sedang memetakan wilayah dan menculik pedagang lokal untuk mengukur kekuatan pertahanan Kuala Batu.
Dari sini, Downes menyusun serangan. Tepat pada fajar, 6 Februari 1832, 300 tentara Amerika Serikat melancarkan serbuan mendadak ke permukiman Kuala Batee.
Baca juga: ‘Quallah Battoo’ Berperan Penting dalam Perdagangan Maritim Kesultanan Aceh Darussalam
Warga jelas tak siap perang. Mereka mengira tamu asing itu datang untuk berdagang. Meski akhirnya sempat melawan, mereka tetap kalah total.
“Kapten Downes mendaratkan 300 orang ke kota, dan dalam waktu kurang dari tiga jam berhasil merebut tiga benteng serta menewaskan antara 80 hingga 100 warga lokal,” tulis New York Observer (7 Juli 1832).
Dalam laporan itu disebutkan, korban di pihak AS hanya dua orang tewas dan 80-100 warga lokal. Meski begitu, laporan lain menyebut jumlah korban jauh lebih besar, yakni 500 warga sipil.
Menurut Farish A. Noor, serangan USS Potomac ke permukiman di Sumatra memicu perubahan mengejutkan dalam opini publik Amerika Serikat. Awalnya, tentara AS dipuji sebagai pahlawan, tapi kemudian dikecam sebagai pembunuh biadab.
Ini disebabkan tentara AS melakukan strategi penyamaran sebagai pedagang, melakukan serangan saat penduduk tertidur, tidak melakukan negosiasi, serta membunuh perempuan dan anak-anak.
Meski gelombang kritik sempat membesar, Presiden Andrew Jackson berhasil meredamnya. Namun, sejarah tetap mencatat luka itu. Baru ratusan tahun kemudian diketahui, warga Kuala Batee tidak sepenuhnya bersalah.
Dalam Death on an Empire (2011), sejarawan Robert Booth menjelaskan bahwa serangan terhadap kapal Friendship dipicu sikap frustrasi warga atas praktik dagang yang curang. Pedagang AS kerap mengurangi takaran dan merugikan warga Kuala Batu. Ketika Friendship datang, kemarahan yang lama terpendam akhirnya meledak.
Namun, Kisah Lenyapnya Kerajaan Kuala Batu (2021) menyebutkan, Kerajaan Kuala Batu memang sudah memperkirakan akan terjadi serangan balasan dari Amerika sebagai akibat dari peristiwa penyanderaan kapal Friendship. Karena itu, sebelum kapal perang Potomac tiba, rakyat Kuala Batu sudah mulai dikerahkan untuk mengungsi ke hulu, terutama wanita dan anak–anak.
Bahkan sebelum penyerangan, Downes mengirimkan utusan menemui raja dan hulubalang Kuala Batu. Utusan tersebut menyampaikan pesan bahwa atas nama Komandan Perang Armada Laut Angkatan Laut Amerika, Raja Kuala Batu harus menyerahkan orang-orang yang ikut menyerang dan membunuh awak kapal Friendship. Mereka meminta para penyerang itu dihukum oleh mereka sendiri di kapal Potomac atau mereka bawa ke Amerika Serikat.
Namun perundingan buntu sehingga Downes memerintahkan anak buahnya menembakkan meriam ke daratan. Kala itu, Kuala Batu diperkirakan sudah berpenduduk sekitar 2000 jiwa dengan 500 orang prajurit terlatih siap tempur.
Sebelum tembakan meriam, Downes memerintahkan anak buahnya mendarat dengan kekuatan penuh untuk mengepung benteng-benteng di Kuala Batu serta menangkap para pemimpin kerajaan.
Serbuan itu mendapatkan perlawan dari prajurit terlatih sehingga dua marinir Amerika tewas dan dan sembilan luka-luka. Barulah setelah itu, Downes menggempur habis Kuala Batu dengan tembakan meriam.
Setelah penyerangan itu, Kerajaan Kuala Batu lenyap dalam peta sejarah. Penduduk Kuala Batu yang mengungsi ke pegunungan membangun perkampungan baru bernama Krueng Batee. Untuk mengabadikan Kerajaan Kuala Batu, Pemerintah Daerah Kabupaten Aceh Selatan ketika itu menabalkan nama Kuala Batu dalam Bahasa Aceh, sehingga menjadi Kecamatan Kuala Batee.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy