Redelong — Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mempercepat penanganan tujuh jembatan di ruas batas Bireuen–Bener Meriah dan batas Bener Meriah–Aceh Tengah yang putus akibat banjir bandang dan longsor pada akhir November 2025.
Dari tujuh jembatan terdampak, lima di antaranya telah kembali berfungsi, yakni Jembatan Alue Kulus, Jembatan Krueng Rongka, dan Jembatan Weihni Lampahan. Sementara Jembatan Weihni Enang-Enang dan Jembatan Jamur Ujung masih dalam tahap penanganan darurat melalui pemasangan jembatan Bailey.
Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan, menjaga konektivitas jalan dan jembatan menjadi prioritas utama pemerintah dalam situasi darurat bencana karena berperan penting bagi aktivitas masyarakat dan kelancaran distribusi logistik.
“Konektivitas adalah urat nadi kehidupan masyarakat. Dalam kondisi bencana, yang terpenting adalah memastikan akses tetap terbuka agar mobilitas warga, bantuan kemanusiaan, dan distribusi logistik tidak terhenti,” ujar Dody, dikutip dari laman Kementerian PU, Jumat, 16 Januari 2026.
Saat ini, ruas batas Bireuen–Bener Meriah dan Bener Meriah–Aceh Tengah sudah dapat dilalui secara fungsional melalui jalan alternatif. Pemasangan jembatan Bailey di Jamur Ujung juga tengah memasuki tahap uji beban sebelum dibuka sepenuhnya.
Penanganan serupa dilakukan di ruas Geumpang–Pameue–Genting Gerbang–Simpang Uning yang kini telah berfungsi secara terbatas. Segmen Geumpang–Pameue–Genting Gerbang sudah dapat dilalui kendaraan, sementara ruas Genting Gerbang–Simpang Uning dialihkan melalui jalur alternatif menuju Angkup guna menghindari Jembatan Titi Merah dan Jembatan Krueng Pelang yang rusak berat. Pemasangan Bailey di Jembatan Krueng Pelang ditargetkan rampung pada Jumat, 16 Januari 2026.
Baca juga: Diseret Banjir Sejauh 100 Meter, Jembatan Wih Kanis Kembali Berfungsi
Sebelumnya, ruas Jalan Kota Bireuen–Batas Bireuen/Bener Meriah kembali terhubung sejak 18 Desember 2025 setelah pemasangan Bailey di Jembatan Teupin Mane serta penanganan sementara longsoran.
Pemulihan konektivitas juga dilakukan di ruas Jalan Meureudu–Batas Pidie Jaya/Bireuen. Akses telah fungsional untuk seluruh jenis kendaraan sejak 12 Desember 2025 setelah oprit jembatan yang runtuh selesai ditimbun.
Di ruas Jalan Kota Bireuen–Batas Bireuen/Aceh Utara, konektivitas dipulihkan melalui Jembatan Bailey Krueng Tingkem berkapasitas 30 ton sejak 27 Desember 2025. Jalur alternatif melalui Jembatan Bailey di Awe Geutah juga telah berfungsi sejak 19 Desember 2025.
Sementara di wilayah tengah dan selatan Aceh, pemulihan dilakukan melalui kombinasi penanganan longsoran dan pemasangan jembatan darurat. Ruas Batas Aceh Tengah/Nagan Raya–Lhok Seumot–Jeuram telah dapat dilalui kendaraan roda dua dan roda empat melalui Jembatan Bailey Krueng Beutong sejak 9 Januari 2026.
Konektivitas di kawasan pegunungan Gayo juga terus dijaga. Sejumlah ruas, mulai dari Genting Gerbang–Celala–Batas Aceh Tengah/Nagan Raya, Batas Aceh Tengah/Gayo Lues–Blangkejeren, hingga Blangkejeren–Batas Gayo Lues/Aceh Tenggara, telah kembali fungsional.
Pada ruas terakhir, longsoran ulang sempat terjadi pada 3 Januari 2026, namun berhasil ditangani sehingga akses kembali dibuka pada 9 Januari 2026.
Adapun ruas Batas Gayo Lues/Aceh Tenggara–Kota Kutacane kembali terhubung setelah penanganan sembilan titik longsor serta pemasangan Jembatan Bailey di Jembatan Lawe Mengkudu I dan Lawe Penanggalan yang telah fungsional sejak 29 Desember 2025.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy