Kekuatan Cinta Tukang Ikan Keliling: Mengayuh Sepeda Sejak 1980, Amin Teunom Akhirnya Berhaji Bersama Istri

Muhammad Amin Teunom jemaah tertua kloter 9 asal Aceh Jaya
Muhammad Amin Teunom, jemaah tertua kloter BTJ-09 asal Aceh Jaya. Menabung dari jualan ikan untuk berhaji. Foto: Fakhrurrazi/Line1News

Banda Aceh, Line1News – Di usia senja yang telah melewati angka 94 tahun, langkah kaki Muhammad Amin Teunom sama sekali tidak goyah. Impian besarnya yang telah dipupuk selama hampir setengah abad akhirnya berbuah manis. Bersama belahan jiwanya, Zubaidah Hasan (84), mereka melangkah pasti menuju Baitullah.

Pasangan lansia asal Gampong Blang, Kecamatan Krueng Sabee, Aceh Jaya ini tergabung dalam Kelompok Terbang (Kloter) BTJ-09. Mereka bersiap menunaikan rukun Islam kelima bersama ratusan jemaah dari Aceh Selatan dan Nagan Raya.

Kayuhan Sepeda dan Gurih Kacang Goreng

Perjalanan menuju Tanah Suci ini bukanlah cerita instan. Ini adalah kisah tentang kesetiaan, keringat, dan keteguhan niat. Sejak tahun 1980, Muhammad Amin telah menyisihkan lembar demi lembar rupiah dari hasil berjualan ikan keliling.

Perjuangan itu tidak ia lalui sendiri. Sang istri, Zubaidah, ikut menopang mimpi mereka dengan berjualan kacang goreng. Kacang-kacang itu dititipkan di warung-warung kecil sepanjang jalan lintas Calang hingga Teunom, Aceh Jaya.

“Tahun 1980 saya mulai jualan ikan pakai sepeda. Lama-kelamaan baru bisa beli sepeda motor Honda Kap 70 karena rute jualan makin jauh,” kenang Amin saat ditemui di Asrama Haji Kelas I Aceh, Kamis, 14 Mei 2026.

Seiring waktu, usahanya sedikit meningkat. Amin mampu membeli becak motor untuk mempermudah usahanya. Setiap tetes keringatnya selalu dibagi dengan penuh perhitungan demi sebuah niat suci.

“Sehari bisa dapat uang sekitar Rp50 ribu. Saya simpan Rp20 ribu untuk tabungan haji, sisanya Rp30 ribu untuk belanja rumah tangga,” ungkapnya dengan senyum tulus.

Setiap kali tabungannya terkumpul dan ada rezeki lebih, Amin langsung mengonversinya menjadi logam mulia. “Saya belikan emas setengah mayam. Begitu terus setiap ada rezeki lebih,” tambahnya.

Cinta yang Mengalahkan Waktu

Niat suci Amin untuk melihat Kakbah sejatinya sudah mendapat jalan saat ia mendaftar haji bersama istrinya pada tahun 2020. Melalui kuota lansia, Amin sebenarnya mendapat panggilan keberangkatan pada tahun 2025 lalu. Namun, ia memilih mundur. Alasannya sederhana namun menyentuh hati: ia tidak ingin menginjakkan kaki di Tanah Suci tanpa wanita yang menemaninya berjuang dari nol.

“Alhamdulillah, sudah dipanggil [untuk barangkat] tahun lalu. Tapi, saya tidak mau pergi karena istri saya belum mendapat giliran berangkat. Saya tunggu dia,” ujarnya lirih.

Kini, penantian itu tuntas. Kakek dengan sembilan cucu ini membuktikan bahwa kekuatan cinta dan niat mampu melompati segala keterbatasan fisik. Di usia hampir seabad, Amin menolak terlihat lemah.

“Alhamdulillah, kalau jalan pelan-pelan masih kuat. Saya tidak mau pakai tongkat,” tegasnya penuh semangat.

Bagi Amin, perjalanan ini adalah bukti kebesaran Allah atas niat yang tulus. Kepada tetangga kampung yang sempat heran karena dirinya tetap ingin berhaji meski sudah pernah umrah dan berkurban, Amin hanya memberikan satu jawaban bijak.

“Kita tanamkan niat dalam hati. Kalau niat kita baik, tentu Allah akan mudahkan,” pungkas Amin.

Baca Juga: Rahasia Sehat Ramlah Sali, Jemaah Tertua Aceh Berusia 101 Tahun: “Cuma Makan Nasi dan Zikir”

Lihat Pula: Keteguhan di Balik Senyum Jumaria: Dari Ember Simpanan hingga Menjadi ‘Ikon Haji 2026’.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy