Madinah – Di balik kerutan di wajahnya yang bersahaja, tersimpan sebuah rahasia besar tentang kesabaran yang melampaui batas. Jumaria, perempuan tangguh dari Desa Kuru Sumange, Kabupaten Maros, kini tak hanya membawa nama desanya ke Tanah Suci, tapi juga menjadi inspirasi dunia setelah dinobatkan sebagai “Ikon Haji 2026”.
Kisah Jumaria bukanlah tentang kekayaan materi, melainkan mengenai kemenangan sebuah niat. Lebih dari dua dekade, ia berjibaku dengan lumpur sawah dan teriknya matahari sebagai buruh kebun. Setiap peluh yang menetes ia konversi menjadi lembaran rupiah yang ia jaga lebih dari nyawanya sendiri.
Tabungan dalam Ember dan Sayur Daun Ubi
Hidup sebatang kara tanpa suami dan anak di tengah hamparan sawah tak membuatnya merasa kesepian. Baginya, setiap butir padi yang ia panen adalah langkah kaki yang semakin dekat menuju Baitullah.
“Kalau sudah panen, saya jual, lalu uangnya saya simpan,” tuturnya kepada tim Media Center Haji. Dengan penuh kehati-hatian, Jumaria menyembunyikan “harta karun” masa depannya itu di tempat-tempat tak terduga—di bawah kasur hingga di dalam ember yang ditutup kain bekas.
Demi impian itu, ia rela melupakan kemewahan meja makan. Cukup dengan sepiring nasi dan rebusan daun ubi yang dipetik di halaman, atau sebutir telur dari ayam peliharaannya, Jumaria merasa sudah cukup. Ia memilih lapar hari ini demi mengenyangkan rindu pada Sang Pencipta di masa tua.
Baca Juga: Rahasia Sehat Ramlah Sali, Jemaah Tertua Aceh Berusia 101 Tahun: “Cuma Makan Nasi dan Zikir”
Fisik Renta, Semangat “Pelari”
Keteguhan hati itu ternyata terpancar pada fisiknya. Meski usianya telah melewati angka 70, Jumaria adalah sosok yang mandiri dan bugar. Namanya mendadak viral setelah akun resmi Kerajaan Arab Saudi, @makkahroute, mengunggah perjuangannya.
Kementerian Haji dan Umrah RI merekomendasikannya sebagai Ikon Haji karena kondisi kesehatannya yang luar biasa—sebuah bukti nyata dari istilah istithaah (kemampuan) kesehatan.
“Bayangkan, dari 80 kali pertemuan manasik, beliau tidak pernah absen sekalipun. Biar hujan atau panas terik, beliau pasti datang,” kenang Siti Hawaisyah, Ketua Kloter 14 UPG, dikutip Line1News dari laporan jurnalis MUI Digital di Madinah, Arab Saudi, Sabtu, 9 Mei 2026.
Kebugaran Jumaria bahkan sempat membuat rekan-rekan jemaahnya takjub sekaligus kewalahan. Marwati, rekan sekamarnya, bercerita, “Saya sudah jalan cepat saja, beliau masih bisa lari sambil menarik tangan saya!”
Doa di Tanah Harapan
Kini, bau tanah sawah Maros berganti dengan harum kota Madinah. Di depan Masjid Nabawi, Jumaria berdiri tegak, membuktikan bahwa Tuhan tidak memanggil mereka yang mampu, melainkan memampukan mereka yang rindu.
Tidak ada permintaan muluk-muluk yang ia panjatkan di tengah keajaiban yang kini ia rasakan. Sambil menyeka sudut matanya yang basah, ia hanya berbisik, “Saya cuma berdoa supaya panjang umur, semoga suatu saat bisa dipanggil kembali ke sini.”
Kisah Jumaria adalah pengingat bagi kita semua: bahwa di hadapan Tuhan, ketekunan seorang buruh kebun bisa lebih megah daripada harta yang melimpah.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy