Juha Christensen: Kepercayaan dan Persatuan Politik Jadi Kunci Memperkuat Perdamaian Aceh

Juha Christensen menghadiri peringatan Hari Damai Aceh 21
Mediator perdamaian Aceh asal Finlandia, Juha Christensen, menghadiri peringatan Hari Damai Aceh ke-21 di Banda Aceh. Foto: Fakhrurrazi/Line1News

Banda Aceh, Line1News – Mediator perdamaian Aceh asal Finlandia, Juha Christensen, menilai perdamaian Aceh yang telah berlangsung selama 21 tahun semakin kuat. Namun, menurutnya, masih terdapat sejumlah hal yang perlu dilanjutkan melalui kerja sama semua pihak untuk menjaga dan memperkuat perdamaian tersebut.

Hal itu disampaikan Juha Christensen dalam momentum peringatan 21 tahun perdamaian Aceh di Balee Meuseuraya Aceh (BMA) Banda Aceh, Sabtu, 15 Agustus 2026.

“Ya, kita melihat bahwa hari ini sudah 21 tahun perdamaian Aceh. Perdamaian ini semakin kuat, tetapi masih ada hal-hal yang perlu kita lanjutkan kerja sama,” kata Juha.

Rawat Fondasi Perdamaian

Menurutnya, keberlanjutan perdamaian Aceh menjadi sangat penting, terutama di tengah berbagai konflik dan peperangan yang masih terjadi di sejumlah tempat di dunia.

Juha menyebut perdamaian Aceh telah menjadi contoh sekaligus fondasi yang luar biasa dalam penyelesaian konflik secara damai. Karena itu, perdamaian tersebut harus dijaga bersama oleh pemerintah dan masyarakat Aceh.

“Perdamaian Aceh sudah menjadi contoh dan fondasi yang sangat luar biasa. Kita harus sama-sama menjaganya,” jelasnya.

Perkuat Kepercayaan dan Politik

Terkait langkah yang perlu dilakukan pemerintah dan masyarakat Aceh agar kondisi daerah semakin baik ke depan, Juha menilai terdapat dua hal utama yang harus diperkuat, yakni kepercayaan serta konsolidasi dan persatuan politik di Aceh.

“Pertama, kepercayaan, yaitu saling percaya antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Kedua, itu konsolidasi dan persatuan politik di Aceh harus kuat,” tutur Juha.

Kunci Pemulihan Ekonomi Aceh

Juha menilai kepercayaan menjadi salah satu faktor penting dalam mendorong masuknya investasi ke Aceh. Menurutnya, investor membutuhkan kepastian bahwa kondisi daerah aman dan stabil sebelum menanamkan modal.

“Investor tidak bisa datang kalau tidak ada kepercayaan bahwa investasi di sini aman. Kita perlu investasi supaya ekonomi Aceh bisa bangun, dan itu memang penting,” ujarnya.

Dia mengakui Aceh masih sedikit tertinggal jika dibandingkan dengan sejumlah provinsi lain. Namun, kondisi tersebut dinilainya sebagai sesuatu yang wajar bagi daerah yang pernah mengalami konflik berkepanjangan.

“Aceh memang sedikit tertinggal kalau dibandingkan dengan provinsi-provinsi lain. Tetapi di dunia ini, di mana-mana daerah yang pernah mengalami konflik selalu makan waktu untuk memulihkan kondisi ekonominya kembali normal,” pungkasnya.[]

Baca Juga: Soal Bendera GAM, Ini Kata Mediator Perdamaian Aceh Juha Christensen

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy