Banda Aceh, Line1News — Koordinator Program Studi Magister Ilmu Kebencanaan Universitas Syiah Kuala (USK), Yunita Idris, menekankan pentingnya pemulihan lingkungan dan perencanaan mitigasi dalam upaya penanggulangan bencana di Aceh.
Yunita menyebut bahwa pemulihan pascabencana tidak cukup hanya dengan membangun kembali rumah dan permukiman. Pemerintah juga harus jeli memerhatikan faktor-faktor yang menjadi pemicu utama bencana tersebut.
Menurutnya, upaya pemulihan perlu diarahkan agar lebih berkelanjutan dengan mempertimbangkan sumber ancaman serta potensi risiko bencana di masa mendatang.
“Kita perlu bersama-sama mencari jalan keluar agar pemulihan ini tidak hanya sekadar membangun kembali, tetapi juga menjadi lebih berkelanjutan (sustainable),” kata Yunita kepada Line1News di Banda Aceh, Senin, 19 Oktober 2026.
Baca Juga: Hampir Setahun Pascabencana, MaTA Kritik Lambannya Pemulihan Aceh dan Tuntut Transparansi Anggaran
Ia menyampaikan, jika pembangunan kembali hanya berfokus pada perumahan dan permukiman tanpa menangani penyebab serta sumber-sumber yang menimbulkan potensi bahaya, risiko bencana akan tetap ada. Pemulihan lingkungan harus menjadi perhatian utama agar dampak bencana dan kebutuhan penanggulangan di masa depan tidak sebesar sebelumnya.
“Jangan sampai kita hanya mengulang pembangunan tanpa melakukan perbaikan yang lebih baik. Pemulihan lingkungan perlu kembali menjadi fokus,” tegas Yunita.
Kontribusi Akademisi Lewat Policy Brief
Dalam upaya mitigasi bencana, Yunita mengatakan bahwa kalangan akademisi dapat berkontribusi aktif melalui penyusunan rekomendasi kebijakan berdasarkan hasil kajian ilmiah.
Rekomendasi tersebut dapat disampaikan kepada pemerintah dalam bentuk policy brief atau naskah kebijakan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan.
Di Program Studi Magister Ilmu Kebencanaan USK, mahasiswa didorong aktif menyusun policy brief melalui kajian-kajian kesiapsiagaan bencana. Hasil kajian ini diharapkan bisa menjadi masukan konkret bagi pemerintah dalam menentukan langkah penanggulangan bencana sekaligus membangun kerja sama dengan berbagai pihak.
“Sebagai akademisi, yang bisa kami lakukan adalah memberikan rekomendasi. Keputusan memang bukan berada di tangan kami, tetapi kami dapat memberikan masukan, termasuk melalui policy brief atau naskah kebijakan,” ujar Yunita.
Selain rekomendasi kebijakan, Yunita menilai ketersediaan data menjadi faktor krusial dalam mendukung upaya mitigasi dan pengurangan risiko bencana. Penanganan bencana tidak dapat dilakukan sendirian oleh kalangan akademisi, melainkan membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat melalui kontribusi data yang dapat dianalisis dan didiskusikan bersama.
Melalui kolaborasi tersebut, masyarakat diharapkan bisa semakin tanggap terhadap berbagai ancaman di sekitarnya serta mampu berperan dalam upaya pengurangan risiko bencana.
Soroti Pemulihan DAS Hingga Aktivitas Gunung Api
Lebih lanjut, Yunita menyoroti pentingnya pemulihan daerah aliran sungai (DAS) dalam penanganan banjir. Namun, ia mengingatkan bahwa langkah tersebut perlu diikuti dengan perencanaan kontingensi agar pemerintah dan masyarakat tidak gagap ketika menghadapi ancaman bencana berikutnya.
“Untuk penanganan banjir, daerah aliran sungai (DAS) perlu dipulihkan. Namun, jauh sebelum itu, ada hal yang sangat perlu kita perhatikan, yaitu perencanaan kontingensi. Kita jangan sampai gagap dalam menghadapi potensi ancaman bencana ke depan,” tegas Yunita.
Selain banjir dan ancaman gempa megathrust yang belakangan semakin intens dibicarakan, Yunita menilai ancaman aktivitas gunung api juga perlu mendapat perhatian lebih besar.
Sejumlah gunung api aktif berada di sekitar wilayah Indonesia. Ancaman aktivitas vulkanik ini muncul di berbagai daerah, mulai dari Sumatra hingga wilayah timur Indonesia. Yunita menegaskan, berbagai potensi ancaman bencana yang ada wajib diantisipasi melalui perencanaan dan kesiapsiagaan yang matang.
“Aceh, tentunya, merupakan wilayah yang bisa disebut sebagai laboratorium hidup ancaman bencana,” pungkas Yunita.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy