Cisah Gelar Trauma Healing Berbasis Budaya bagi Seniman Terdampak Banjir Aceh Utara

Trauma healing bagi seniman dan penggiat budaya1
Cisah menggelar trauma healing berbasis budaya bagi para seniman dan penggiat budaya, di Aula Museum Islam Samudra Pasai, di Gampong Beuringen, Samudera, Aceh Utara, Ahad, 8 Februari 2026. Foto: Cisah

Aceh Utara – Center for Information of Sumatra Pasai Heritage (Cisah) menggelar trauma healing berbasis budaya bagi para seniman dan penggiat budaya Aceh Utara. Kegiatan ini berlangsung di Aula Museum Islam Samudra Pasai, di Gampong Beuringen, Kecamatan Samudera, Aceh Utara, Ahad, 8 Februari 2026.

Diikuti puluhan pelaku seni dan budayawan yang terdampak langsung bencana alam pada akhir November 2025, kegiatan tersebut menjadi ruang berbagi rasa, menata kembali harapan, serta merawat ingatan kolektif melalui sentuhan sejarah dan nilai-nilai budaya lokal.

Dipandu kurator Museum Islam Samudra Pasai, Sukarna Putra dan Putry Chaira, para peserta diajak menyelami proses pemulihan batin melalui narasi sejarah, refleksi budaya, serta ekspresi seni yang membumi.

Hadir pula Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Utara, Muhibuddin, bersama para staf sebagai tuan rumah kegiatan itu. Kehadiran pemerintah daerah menjadi simbol dukungan moral bagi para pelaku budaya yang tengah bangkit dari keterpurukan.

Sekretaris Jenderal Cisah, Mawardi, menuturkan dengan nada haru bahwa banjir bandang tidak hanya menyisakan kerusakan fisik, tetapi juga meninggalkan luka mendalam bagi para penjaga warisan budaya.

“Banyak saudara kita—seniman dan budayawan—yang terdampak langsung. Alat-alat kesenian tradisional yang diwarisi secara turun-temurun rusak, bahkan hilang terseret banjir. Ini bukan semata kehilangan materi, tapi hilangnya jejak sejarah dan identitas budaya kita,” ujar Mawardi.

[Para seniman dan penggiat budaya mengikuti trauma healing berbasis budaya. Foto: Cisah]

Menurut Mawardi, pendekatan trauma healing berbasis budaya dipilih karena lebih dekat dengan jiwa masyarakat Aceh. Seni dan tradisi menjadi medium penyembuhan kolektif, tempat para pelaku budaya saling menguatkan, sekaligus menyalakan kembali semangat berkarya.

Apresiasi juga datang dari Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah I Aceh, Piet Rusdi. Dia menilai inisiatif Cisah sebagai langkah penting dalam menjaga denyut kebudayaan di tengah situasi pascabencana.

“Kebudayaan adalah jantung peradaban. Ketika para pelakunya terluka, maka kita semua punya tanggung jawab untuk hadir—membantu pemulihan jiwa mereka dan memastikan karya-karya budaya tetap berlanjut,” ungkap Piet.

Piet menegaskan seniman dan penggiat budaya memegang peran strategis dalam merawat identitas daerah. Oleh karena itu, perhatian terhadap kondisi mental serta keberlangsungan aktivitas mereka menjadi bagian penting dari proses pemulihan Aceh Utara secara menyeluruh.

Melalui kegiatan ini, Cisah berharap tidak hanya membantu menyembuhkan trauma, tetapi juga menumbuhkan kembali solidaritas serta mempererat kebersamaan. “Dan menjadi titik awal kebangkitan seni tradisi Aceh Utara—bahwa di balik bencana, masih ada harapan yang tumbuh, dan budaya tetap berdiri sebagai penopang ketahanan masyarakat”.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy