Rembang – Di hadapan penghulu, Vicky Rio Wimbi Utomo tak hanya mengucap janji setia yang menggetarkan hati. Di sela deretan angka mahar senilai Rp2.932.000, terselip dua baris kata yang tak lazim dalam sebuah ijab kabul: sepasang pohon mangga.
Minggu, 29 Maret 2026 menjadi hari paling bersejarah bagi Vicky dan Feronika Parastuti. Di sebuah rumah sederhana di Desa Sambiyan, Kecamatan Kaliori, Rembang, Jawa Tengah, sepasang bibit mangga berdiri tegak di dekat meja akad, menjadi saksi bisu penyatuan cinta mereka yang khidmat.
Bagi Vicky, yang sehari-hari bergelut dengan dunia jurnalistik di media Lingkar Jateng, mahar ini bukan sekadar gimik atau gaya-gayaan. Ada filosofi mendalam yang sengaja ia tanam sebagai fondasi rumah tangganya.
“Kenapa saya memilih pohon mangga sebagai mahar? Karena bagi saya, pohon ini adalah simbol harapan. Saya ingin belajar merawat tanaman ini sebagaimana saya harus merawat istri dan keluarga saya nanti,” tutur Vicky, dikutip dari laman Kemenag pada Minggu (5/4).
Simbol Kehidupan dan Manfaat
Vicky membayangkan, suatu saat nanti pohon itu akan tumbuh besar dan berbuah, sebagaimana ia mendamba keturunan yang saleh dan unggul dari pernikahannya. Lebih dari itu, ia ingin keluarganya punya “akar” yang kuat dan “rindang” yang memberi manfaat bagi orang banyak.
“Pohon mangga ini nanti akan bermanfaat bagi masyarakat, sebagaimana keluarga saya nanti harus bermanfaat untuk masyarakat dan bangsa ini,” tambahnya.
Bagi Vicky, mahar pohon adalah mahar yang “hidup”—ia wajib dijaga dan dirawat agar terus memberikan keberkahan.
Terinspirasi Program Ekoteologi

[Penghulu KUA Kaliori, Rembang, menyerahkan buku nikah kepada Vicky dan Feronika usai akad nikah. Foto: Kemenag]
Pilihan unik ini lahir setelah Vicky berkonsultasi dengan Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Rembang, Moh. Mukson. Ketertarikannya pada program MELATI (Madrasah Ekoteologi Lestarikan Alam dan Tingkatkan Iman) memantapkan hatinya untuk membawa “nyawa” hijau ke pelaminan.
Mukson sendiri memberikan apresiasi tinggi atas langkah jurnalis muda tersebut. Menurutnya, aksi Vicky adalah implementasi nyata dari konsep Ekoteologi yang sedang digencarkan Kemenag Rembang.
“Kami sangat mengapresiasi langkah Mas Vicky. Ini bukan hanya soal mahar, tapi kepedulian menjaga kelestarian alam di Kabupaten Rembang,” ujar Mukson.
Inspirasi bagi Calon Pengantin Lain
Kemenag Rembang memang tengah giat mendorong para calon pengantin (catin) untuk meninggalkan jejak hijau melalui berbagai program, seperti Janur Melengkung (Jaga Nusantara, Keluarga Peduli Lingkungan) yang sudah mulai diterapkan di KUA Bulu dan KUA Kragan.
Mukson berharap, langkah Vicky dan Feronika bisa menjadi inspirasi bagi pasangan muda lainnya. Bahwa memulai hidup baru tak harus melulu soal kemewahan materi, tapi bisa dimulai dengan menanam kebaikan yang akarnya menghujam ke bumi dan manfaatnya menjulang ke langit.
Kini, di halaman rumah mereka, sepasang bibit mangga itu terus tumbuh. Seiring dengan tumbuhnya cinta Vicky dan Feronika, pohon itu akan menjadi pengingat abadi bahwa pernikahan adalah tentang merawat kehidupan.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy