Mahasiswa S3 University of Auckland Bagikan Pengalaman Berpuasa di Selandia Baru

Peserta talkshow internasional
Peserta Talkshow Internasional 'Berpuasa di Ujung Dunia – Ramadhan di New Zealand' yang digelar IO UINAR. Foto: UINAR

Banda Aceh – Yuliar Masna, kandidat doktoral di University of Auckland yang tengah menempuh pendidikan S3 di Selandia Baru menceritakan pengalaman berpuasa Ramadan di negara ujung dunia tersebut.

Puasa Ramadan di Selandia Baru, kata Yuliar, memiliki tantangan tersendiri bagi umat Islam. Salah satu yang paling mencolok adalah perbedaan durasi puasa yang dipengaruhi musim.

Saat musim gugur, kata dia, muslim di Selandia Baru harus berpuasa hingga 16 jam, dengan sahur dimulai pukul 05.00 AM dan berbuka sekitar pukul 09.00 PM.

“Hal ini terjadi karena matahari tenggelam lebih lambat. Sebaliknya, di musim dingin, puasa menjadi lebih singkat, berkisar antara 12 hingga 14 jam, dengan waktu berbuka antara pukul 05.00 hingga 07.00 PM,” ujar Yuliar di talkshow daring yang digelar International Office Universitas Islam Negeri Ar-Raniry (IO UINAR) Banda Aceh, Rabu, 26 Maret 2025.

“AM” singkatan dari “Ante Meridiem” yang berarti “sebelum tengah hari” dan digunakan untuk waktu dari tengah malam hingga sebelum tengah hari (11:59). Sedangkan “PM” singkatan dari “Post Meridiem” yang berarti “setelah tengah hari” dan digunakan untuk waktu dari tengah hari hingga sebelum tengah malam.

Tahun ini, durasi puasa di Selandia Baru mencapai 13 jam, karena Ramadan jatuh pada peralihan musim dingin ke musim panas. Waktu sahur dimulai sekira pukul 04.00 AM, imsak 05.53 AM, dan iftar pukul 19.29 PM.

Meskipun hidup sebagai minoritas, lanjut Yuliar, muslim di Selandia Baru tetap dapat menjalankan ibadah dengan bebas. Warga asli Selandia Baru dikenal ramah terhadap pendatang, termasuk komunitas muslim.

Selama Ramadan, masyarakat muslim terutama diaspora Indonesia, sering mengadakan buka puasa bersama dan salat tarawih di bangunan yang difungsikan sebagai masjid.

Kegiatan itu disebut Yuliar tidak hanya mempererat ukhuwah Islamiyah, tetapi juga menjadi ajang silaturahmi bagi mahasiswa dan warga Indonesia yang menetap di sana.

Namun, tantangan tetap ada. Banyak masyarakat nonmuslim belum mengenal konsep Ramadan dan puasa. “Sehingga tidak jarang muslim harus menahan lapar sambil melihat orang lain menikmati makanan saat bekerja atau berkuliah,” ungkap Yuliar.

Selain itu, sebagian besar toko dan kedai di Selandia Baru tutup pada pukul 05.00 PM, sehingga orang muslim harus berbelanja lebih awal untuk persiapan berbuka.

Di Auckland, kata Yuliar, mahasiswa muslim rutin mengadakan buka bersama dengan membawa keluarga masing-masing, menciptakan suasana kekeluargaan yang hangat.

“Makanan tidak tersentuh dan tersisa setelah berbuka biasanya akan dibagikan kembali kepada mahasiswa atau warga yang membutuhkan,” ujarnya.

Selain menjalani puasa Ramadan, Yuliar juga aktif dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan, termasuk yang berkaitan dengan isu Palestina. Namun, ia mengungkapkan ada beberapa pihak menghalangi aksi-aksi kemanusiaan tersebut, bukan dari masyarakat setempat melainkan dari kelompok tertentu asal India.

Saat talkshow, Yuliar juga membahas peluang kerja bagi warga Indonesia di Selandia Baru. Warga Indonesia tidak memiliki visa musim panas (summer visa) di negara itu, sehingga pilihan pekerjaan cukup terbatas.

Profesi yang umum dilakoni diaspora Indonesia di Selandia Baru antara lain sebagai guru bahasa Indonesia, koki, serta pekerja di kedai atau tempat pemotongan daging halal.

Antusiasme Peserta dan Harapan ke Depan

Talkshow internasional bertajuk ‘Berpuasa di Ujung Dunia: Ramadhan di New Zealand’ yang dipandu Ummu Aiman itu diikuti Lebih dari 40 peserta.

Tidak hanya dari lingkungan UINAR, peserta juga berasal dari universitas lain, seperti Universitas Syiah Kuala dan Telkom University Bandung.

Acara tersebut hasil kolaborasi antara IO UINAR dan tim volunteer yang baru saja dibentuk. Di bawah bimbingan Profesor Saiful Akmal selaku Ketua IO UINAR, para volunteer bekerja keras menyukseskan acara.

Profesor Saiful berharap talkshow itu dapat menjadi agenda rutin bulanan untuk mendukung internasionalisasi UINAR menjadi kampus kelas dunia.

Dengan semakin banyaknya program bertaraf internasional seperti itu, kata Akmal, diharapkan UINAR dapat terus membuka wawasan global bagi mahasiswa dan civitas akademika, serta mempererat hubungan dengan diaspora Indonesia di berbagai belahan dunia.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy