Takengon – Para petani di sekitar lubang longsor Pondok Balik, Ketol, Aceh Tengah, berharap ada kompensasi dari pemerintah karena lahan mereka turut tergerus atau berada di sekitar zona berbahaya.
Sedikitnya 20 petani kini tidak lagi berani menggarap lahan yang sebelumnya ditanami berbagai komoditas unggulan seperti cabai, tomat, kol, bawang merah, serta aneka palawija.
Seorang petani, Edi Saputra, mengaku lahan cabainya seluas sekitar 3.500 meter persegi telah hilang ditelan lubang raksasa tersebut.
“Lahan saya sudah hilang sekitar lima rantai, petani lain juga terdampak adanya sekitar lima rantai sampai satu hektare,” kata Edi dilansir Beritasatu.com, Jumat, 13 Februari 2026.
Baca juga: Menteri PU Paparkan Langkah Teknis Penanganan Lubang Longsor Raksasa di Pondok Balik Ketol
Edi menyebutkan lahan pertanian yang ditelan lubang raksasa tersebut digunakan warga untuk menanam berbagai hasil pertanian. Namun, lahan yang paling banyak terdampak milik petani cabai.
“Harapannya semoga pemerintah bisa membantu kami, karena tahun depan sudah pasti lahan ini tidak bisa digunakan lagi untuk menanam cabai.”
Kepala Desa Pondok Balik Aliyono mengatakan telah mendata sekitar 30.000 meter persegi lahan yang amblas akibat lubang longsor tersebut.
Selain itu, sekira 10 hektare lahan milik 20 petani terdampak berada di zona waspada.
Baca juga: Lubang Longsor di Ketol Serupa Sinkhole, Ini Perbedaannya
“Warga tidak berani lagi mendekati lokasi karena longsor ini masih terus bergerak, kadang di sebelah utara, kadang di selatan,” ungkapnya.
Menurut Aliyono, para petani kini berharap adanya perhatian dan kompensasi dari pemerintah daerah maupun pusat, mengingat sebagian besar dari mereka kehilangan sumber mata pencaharian utama.
“Ketugian petani sudah kita data semua dan untuk kompensasi kita tunggu keputusan pemerintah kabupaten, provinsi dan juga pusat.”
Lubang besar menyerupai sinkhole tersebut kini memutuskan akses jalan utama penghubung Bener Meriah-Aceh Tengah. Sebelumnya, luas lubang terus bertambah signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
Pada 2021, area terdampak sekira 10 ribu meter persegi. Namun, pada 2026 meningkat menjadi tiga hektare. Selain itu, sekitar 10 hektare lahan lainnya turut terdampak dan masuk dalam zona waspada.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy