Quraish Shihab: Jangan Biarkan Dendam Menggerogoti Hati di Hari Raya

quraish shihab
Pakar Tafsir Al-Qur'an Prof. Muhammad Quraish Shihab menekankan bahwa memaafkan tanpa menunggu diminta adalah tingkat ketakwaan tertinggi. Foto: tangkapan layar Youtube Quraish Shihab

Jakarta – Momen Idulfitri sering kali identik dengan baju baru dan hidangan lezat. Namun, Pakar Tafsir Al-Qur’an ternama, Profesor Muhammad Quraish Shihab, mengingatkan ada hal yang jauh lebih krusial untuk dipersiapkan: kebersihan hati dari racun dendam.

Dalam pengajian Ramadan Tafsir Al-Mishbah bertajuk “Saling Memaafkan, Menghapus Luka dan Dosa”, Prof. Quraish Shihab menegaskan bahwa Lebaran adalah momentum terbaik untuk melakukan “detoks” batin.

“Ciri orang bertakwa itu menahan amarah dan memaafkan sesama. Lebaran Idulfitri menjadi momen yang tepat untuk saling memaafkan, baik dengan keluarga maupun teman,” ujar Quraish Shihab, Jumat, 20 Maret 2026, dilansir NU Online.

Memaafkan Tanpa Menunggu Diminta

Satu pesan kuat yang disampaikan penulis buku Tafsir Al-Mishbah ini adalah keberanian untuk memulai. Menurutnya, umat Islam sebaiknya membiasakan diri memaafkan tanpa harus menunggu orang lain datang memohon ampun.

“Di akhir Ramadan ini kita biasakan memaafkan. Kalau pun orang tidak meminta maaf, kita bisa memaafkan lebih dulu,” lanjutnya.

Baca juga: Tips Antistres Saat Terjebak Macet di Jalur Mudik

Analogi ‘Bekas Hapus di Kertas’

Quraish Shihab menjelaskan bahwa memaafkan memiliki tingkatan. Dia memberikan perumpamaan yang sangat menyentuh tentang bagaimana luka hati bekerja.

“Memaafkan itu menghapus luka di hati, tidak membalas. Tapi seperti tulisan yang salah di kertas, jika dihapus, tulisannya hilang, tetapi kertasnya masih meninggalkan bekas,” jelasnya dengan bijak.

Namun, Al-Qur’an menawarkan solusi yang lebih tinggi, yaitu konsep Safh. Konsep ini berarti membuka lembaran baru seutuhnya. Pada tahap ini, seseorang tidak lagi menoleh ke belakang atau mengungkit-ungkit luka lama.

Bahaya Menyimpan Dendam bagi Produktivitas

Mengapa kita harus memaafkan? Quraish Shihab mengingatkan bahwa menyimpan dendam sebenarnya hanya akan merugikan diri sendiri. Dendam bukan hanya merusak ketenangan batin, tapi juga menghambat produktivitas sehari-hari.

“Dendam dapat menggerogoti hati kita sendiri. Karena itu, dendam tidak dianjurkan karena dapat merugikan,” katanya.

Sebagai penutup, Quraish Shihab mengajak setiap individu untuk melihat kesalahan orang lain dengan perspektif yang lebih luas dan empati. Bisa jadi, kesalahan orang lain muncul karena ketidaksengajaan atau tekanan hidup yang mereka alami.

“Ingatlah bahwa kesalahan orang lain bisa saja lebih ringan dibanding kesalahan yang mungkin kita lakukan. Jika Anda memaafkan, terbuka peluang Allah SWT memaafkan kesalahan Anda,” pungkasnya.

Apa arti memaafkan bagi Anda di Lebaran tahun ini?[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy