Aceh selalu punya cara sendiri untuk merayakan kemenangan. Di Serambi Mekkah, Idulfitri bukan sekadar ritual setahun sekali, melainkan sebuah simfoni yang memadukan keteguhan iman dengan kekayaan adat yang telah mengakar selama berabad-abad.
Bagi masyarakat Aceh, Uroe Raya (Hari Raya) adalah momentum di mana harmoni antara Islam dan kearifan lokal bertemu dalam satu meja yang penuh kehangatan.
Hikayat Kepahlawanan di Balik Gema Takbir
Dihimpun Line1.News dari berbagai sumber, dahulu suasana malam Idulfitri di Aceh tidak hanya diisi dengan gema takbir. Di meunasah-meunasah (surau), suara tabuhan bedug (peh tambo) bersahutan dengan lantunan hikayat. Masyarakat berkumpul mendengarkan kisah-kisah epik seperti Hikayat Malem Dagang.
Salah satu kutipan dalam Hikayat Malem Dagang menggambarkan betapa megahnya masa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda, di mana keadilan dan kemakmuran berjalan beriringan. Tradisi literatur lisan ini dulunya menjadi cara masyarakat Aceh memupuk semangat juang dan rasa syukur di malam kemenangan.
Baca juga: Haul 388 Tahun Sultan Iskandar Muda: Mengembalikan Kejayaan Adat Istiadat Aceh Darussalam
Protokol Lebaran ala Kesultanan Aceh
Tahukah Anda bahwa tradisi Lebaran di Aceh memiliki aturan resmi sejak zaman kesultanan? Dalam Qanun Meukuta Alam yang dirancang Sultan Iskandar Muda, silaturahmi bukan sekadar anjuran sosial, melainkan bagian dari penyempurna ibadah puasa.
Catatan sejarah menyebutkan betapa tertibnya perayaan di istana. Tepat pukul lima pagi pada 1 Syawal, dentuman meriam sebanyak 21 kali akan menggelegar ke seluruh penjuru ibu kota sebagai tanda kemenangan.
Para Panglima Sagi dan Uleebalang pun akan berkumpul mengenakan pakaian terbaik untuk menghadap Sultan di Balai Baital Rahman, di mana mereka akan menerima “hadiah lebaran” berupa kain mulia sebagai tanda penghormatan.
Baca juga: Sunyinya Dentuman “Beude Trieng”: Saat Tradisi Meriam Bambu Aceh Tergusur Kilaunya Kembang Api
“Peunajöh Timphan, Piasan Rapa-i”

[Timphan, menu wajib yang menghiasi setiap meja warga Aceh saat Idulfitri. Foto: Dok. Shutterstock/Irfan M Nur]
Bicara Lebaran di Aceh tentu tak lengkap tanpa membahas kulinernya. Ada ungkapan masyhur: “Peunajöh timphan, piasan rapa-i“. Artinya, makanan kehormatan saat hari raya adalah Timphan, dan hiburannya adalah deburan Rapa-i (rebana).
Timphan—kue berbahan dasar tepung ketan dan srikaya yang dibalut daun pisang muda—adalah menu wajib yang harus ada di setiap meja tamu. Menariknya, bahkan di era peperangan masa lalu, semangat membuat kue dan pulang kampung tidak pernah surut. Lebaran menjadi waktu “gencatan senjata” alami di mana semua orang kembali ke akar mereka untuk bersimpuh di kaki orang tua.
Baca juga: “Open House” di Serambi Mekkah: Ini Kuliner Wajib yang Menghiasi Meja Lebaran Khas Aceh
Tradisi Unik yang Masih Lestari: Teumeutuk dan Meuleumak
Hingga kini, Aceh masih memegang teguh beberapa tradisi unik yang memberikan warna tersendiri:
Teumeutuk (Silaturahmi Pengantin Baru):
Bagi pasangan yang baru menikah, Lebaran pertama adalah ajang “perkenalan resmi” ke seluruh keluarga besar. Dalam tradisi Teumeutuk, pengantin baru akan berkeliling mengunjungi rumah kerabat.
Sebagai bentuk penyambutan dan modal awal rumah tangga, para kerabat yang sudah mapan biasanya akan memberikan hadiah uang atau angpau. Ini adalah cara elegan masyarakat Aceh mempererat ikatan kekeluargaan dengan anggota keluarga baru.
Meuleumak (Masak dan Berbagi):

[Warga Aceh Besar mengaduk Kuah Beulangong. Foto: MC Aceh Besar]
Di kawasan Pidie dan Pidie Jaya, ada tradisi Meuleumak. Warga akan bergotong-royong memasak dalam porsi besar di meunasah. Makanan ini kemudian dibagikan ke rumah-rumah warga dan disantap bersama. Di sini, ego individu luruh dalam kuali yang sama, mencerminkan nilai kepedulian sosial yang sangat tinggi.
Penutup: Lebih dari Sekadar Perayaan
Suasana Lebaran di Aceh hari ini tetap hangat dengan tradisi teumeutuek (pemberian uang saku untuk anak-anak), ziarah kubur, dan kunjungan kepada teungku atau guru-guru agama (guree).
Setiap tawa anak-anak yang menerima angpau, setiap kunyahan timphan yang legit, hingga doa yang dipanjatkan di pusara leluhur, semuanya adalah benang merah yang menjaga identitas Aceh. Tradisi ini bukan sekadar rutinitas, melainkan cermin dari sebuah bangsa yang menghargai sejarah, menjunjung tinggi agama, dan merawat kebersamaan di atas segalanya.

[Sejumlah anak terlihat asyik menghitung uang hasil dari salam tempel saat perayaan Idulfitri. Foto: Dokumen Antara]
Tradisi Lebaran di Aceh terbukti tak lekang oleh waktu. Kalau Anda, apa menu wajib atau kegiatan yang enggak boleh terlewatkan saat Uroe Raya?[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy