Banda Aceh – Beberapa dekade lalu, malam menjelang Lebaran di beberapa daerah di Aceh terutama kawasan pedesaan selalu riuh dengan suara dentuman menggelegar dari pinggiran sungai atau pematang sawah. Itulah toet beude trieng (membakar meriam bambu), sebuah tradisi turun-temurun yang menjadi simbol semangat dan kegembiraan menyambut hari kemenangan.
Bukan hanya soal suara, beude trieng adalah tentang proses komunal yang kini kian pudar di era instan. Seiring berjalannya waktu, suara dentuman ikonik tersebut kian sayu, digantikan oleh desisan dan ledakan warna-warni petasan kembang api modern di angkasa.
Tradisi yang Lahir dari Semangat Perlawanan
Informasi dihimpun Line1.News, toet beude trieng bukan sekadar mainan bocah. Secara historis, permainan ini merepresentasikan kecerdikan rakyat Aceh di masa lampau dalam meniru suara meriam asli untuk menyemangati pejuang dan menghibur masyarakat di tengah suasana perang. Bambu pilihan diisi minyak tanah dan karbit, lalu disulut api hingga menghasilkan suara yang menggetarkan dada.
Mengapa Mulai Ditinggalkan?
Fenomena beralihnya minat generasi muda dari meriam bambu ke kembang api dipicu oleh beberapa faktor:
Kepraktisan: Membuat beude trieng membutuhkan usaha ekstra, mulai dari mencari bambu yang tepat hingga proses pemanasan yang lama. Sebaliknya, kembang api cukup dibeli di pinggir jalan dan siap dinyalakan.
Modernisasi Visual: Kembang api menawarkan keindahan visual lewat percikan warna-warni yang lebih disukai untuk konten media sosial, sementara meriam bambu hanya mengandalkan kekuatan suara.
Ketersediaan Bahan: Mencari bambu berkualitas di area yang kian urban menjadi tantangan tersendiri bagi anak muda di kota.
Hilangnya Nilai Gotong Royong
Sementara itu, dari sisi sosiologi masyarakat, pergeseran ini juga dipandang sebagai perubahan pola interaksi. Membakar meriam bambu membutuhkan gotong royong—mulai dari mencari bambu di hutan hingga menjaga api bersama—sedangkan kembang api cenderung dilakukan secara individual atau keluarga kecil saja.
Penutup
Hilangnya suara beude trieng bukan sekadar hilangnya kebisingan, melainkan perlahan pudarnya satu kepingan identitas budaya Aceh. Di tengah gempuran kembang api yang memukau mata, mampukah tradisi bambu ini bertahan sebagai warisan, ataukah ia hanya akan menjadi cerita dalam buku sejarah?[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy