Warisan Arsitektur Ayyubiyah di Masjid Agung Nablus Tepi Barat Palestina

Masjid Agung Nablus
Bagian dalam Masjid Agung Nablus. Foto: Wikipedia

Di Kota Nablus Tepi Barat Palestina yang diapit Gunung Ebal dan Gunung Gerizim, terdapat sebuah masjid tua dengan arsitektur indah dan kaya sejarah. Namanya Masjid Masjid Agung Nablus atau Masjid Al Salahi (Jami’ Nablus al-Kebir).

Masjid ini terletak di persimpangan jalan utama Nablus, di sepanjang tepi timur distrik tersebut. Denah lantai masjid persegi panjang dengan kubah perak di atasnya. Arsitektur masjid bergaya Ayyubiyah, merujuk pada nama Dinasti Ayyubiyah yang dipimpin oleh Saladin atau Salahuddin.

Situs Masjid Agung Nablus berdiri saat ini dulunya reruntuhan basilika Romawi, yang dibangun masa pemerintahan Marcus Julius Philippus atau Philippus I Arabus atau Philip the Arab, Kaisar Romawi yang memerintah sejak 244 sampai 249 Masehi.

Bangsa Bizantium kemudian membangun katedral di atas reruntuhan basilika tersebut. Katedral itu kemudian dirusak atau dihancurkan orang Samaria saat penyerbuan mereka pada 484 dan 529.

Pada awal pemerintahan Islam di Palestina, sekira abad 10, katedral itu diubah menjadi Masjid Agung Nablus. Namun, pada 1167, Tentara Salib mengubah kembali masjid tersebut menjadi gereja dengan membuat sedikit perubahan.

Majsid Nablus awal 1900
Majsid Nablus awal 1900

Pada 1187, Dinasti Ayyubiyah yang dipimpin oleh Saladin Al Ayyubi mengubah bangunan tersebut menjadi masjid lagi usai penaklukan Nablus. Tapi, masjid tersebut dibakar lagi oleh Pasukan Salib saat menjarah kota tersebut pada 30 Oktober 1242.

Akhir abad 13, masjid itu kembali berdiri. Dibuktikan oleh penulis sejarah Arab al-Dimashqi, yang pada 1300 menyebut Masjid Agung Nablus sebagai “masjid yang indah, tempat salat dilakukan, dan Al-Qur’an dibacakan siang dan malam, dengan laki-laki yang ditugaskan di sana”.

Lalu pada 1335, penjelajah Barat, James dari Verona, mencatat masjid itu dulunya adalah “gereja orang Kristen tetapi sekarang menjadi masjid orang Saracen”.

Dua puluh tahun kemudian, Ibnu Batutah mengunjunginya dan mencatat bahwa di tengah masjid terdapat “tangki air tawar”.

Pada 1641, menara Masjid Agung Nablus dibangun kembali, tetapi kompleks masjid itu hampir tidak tersentuh selama sebagian besar keberadaannya di kemudian hari sampai gempa bumi dahsyat melanda Palestina, khususnya Nablus pada 1927. Kubah dan menara masjid hancur tetapi direnovasi kembali pada 1935.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy