Washington DC – Pertemuan perdana Board of Peace (BoP) atau “Dewan Perdamaian” pada Kamis, 19 Februari 2026, di Washington DC, AS, menuai beragam kritik di media sosial.
Melansir Middle East Eye, di pertemuan tersebut terungkap beberapa janji dan arah kebijakan, termasuk komitmen bantuan untuk Gaza senilai USD 7 miliar dari sembilan negara.
Diplomat Bulgaria Nickolay Mladenov yang ditunjuk mengawasi rencana demiliterisasi Gaza, mengatakan 2.000 warga Palestina telah direkrut sebagai polisi. Namun, rekonstruksi Gaza disebut tidak akan dimulai hingga seluruh senjata Hamas dilucuti.
Sementara Trump yang akan menjabat sebagai Ketua BoP seumur hidup mengumumkan negaranya akan mengalokasikan tambahan 10 miliar dolar AS dana pajak untuk operasi Dewan Perdamaian tersebut, bukan hanya untuk upaya yang berfokus pada Gaza.
Usulan tersebut langsung memicu kritik di dunia maya. Menurut anggota parlemen dan pengamat, pengeluaran federal dalam skala sebesar itu biasanya memerlukan persetujuan dari Kongres. Beberapa anggota Kongres menyebut langkah tersebut melanggar hukum.
“‘Dewan Omong Kosong’ bukanlah organisasi milik pemerintah AS. Ini adalah usaha pribadi yang dijalankan oleh Trump sebagai warga negara AS BUKAN sebagai presiden,” tulis seorang pengguna media sosial di X.
“Dia tidak bisa begitu saja mengambil uang pembayar pajak dari Departemen Keuangan seolah-olah itu adalah celengan pribadinya. Ini adalah perilaku yang keterlaluan dan harus segera diselidiki.”
Baca juga: Indonesia Gabung BoP, Amnesty Minta DPR Panggil Presiden dan Menlu
Tuduhan lain juga mencuat, bahwa Trump dan koneksi bisnis elitnya dapat menggunakan rekonstruksi Gaza sebagai alat mencari keuntungan.
Menantu Trump, Jared Kushner, yang turut naik ke panggung menyatakan tidak seorang pun di pertemuan itu akan “secara pribadi” mengambil keuntungan dari rekonstruksi Gaza.
Banyak pengguna media sosial mengatakan kata “secara pribadi” itu menyesatkan. Kushner juga tidak memiliki peran resmi dalam pemerintahan AS, tetapi disebut sebagai sukarelawan oleh Karoline Leavitt, sekretaris pers Gedung Putih .
Awal tahun ini, Kushner mantan pengembang properti tersebut mempresentasikan visinya tentang “Gaza Baru” di Forum Ekonomi Dunia, yang menampilkan maket gedung pencakar langit dan resor pantai berbasis AI.
Marc Rowan, CEO miliarder Apollo Global Management, juga menyampaikan kekhawatiran ketika ia mengatakan “garis pantai Gaza saja bernilai 50 miliar dolar AS berdasarkan perkiraan konservatif dan wilayah tersebut hanya perlu dibuka dan dibiayai”.
Nothing says America is a serious country, like YMCA playing at closure of “Board of Peace” meeting.
Absolute clown show. pic.twitter.com/1PFosJ0wf9
— Maine (@TheMaineWonk) February 19, 2026
Selain mengkritik para miliarder yang berupaya mengambil keuntungan dari rekonstruksi Gaza, pengguna media sosial mengecam upaya menutupi peran Israel dalam kehancuran di Gaza, di mana lebih dari 72 ribu warga Palestina telah tewas dalam peristiwa yang dianggap sebagai genosida oleh PBB.
Mantan perdana menteri Inggris Tony Blair misalnya, malah menyalahkan krisis di Gaza karena tata pemerintahan yang buruk, bukan pada pendudukan Israel yang berkepanjangan selama 58 tahun, pengungsian paksa, dan sekarang genosida.
“Pemerintahan Gaza ditandai oleh ekstremisme, korupsi, lembaga yang tidak efektif, dan tidak adanya jalan menuju kemakmuran bagi rakyat Gaza”.
Warganet menganggap pernyataan Blair itu memalukan.
Hal lain yang mencuat selama pertemuan perdana BoP itu, serangkaian pujian berlebihan terhadap Trump dari beberapa pemimpin dunia.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menuai kritik khusus setelah menyebut Trump sebagai “penyelamat Asia Selatan”.
Presiden Kazakhstan Kassym-Jomart Tokayev bahkan memberikan penghargaan kepada Trump atas upayanya dalam menyusun dewan tersebut, yang menurut tokoh-tokoh seperti jurnalis Mehdi Hassan “sungguh di luar nalar”.
“Tidak ada gambaran yang lebih tepat tentang apa yang diinginkan Amerika selain pertemuan pertama Dewan Perdamaian ini. PBB menyamakan kedudukan setiap negara. Di sini, negara-negara secara fisik berpusat di sekitar Trump sendiri, satu-satunya tujuan mereka saat berbicara adalah untuk memuji Amerika dan hanya Amerika,” tulis jurnalis Seamus Malek di X.
Sementara saat beberapa pemimpin dunia berpidato, Trump dilaporkan tertidur.
Para pengguna media sosial juga memperhatikan bahwa perwakilan Palestina di dewan tersebut, Ali Shaath, duduk di atas panggung tanpa gelar yang tertera di kursinya, tidak seperti perwakilan negara lainnya.
Jurnalis Palestina di Gaza, Motasem Dalloul, mengatakan bahwa dari sudut pandangnya, semua yang disebutkan di pertemuan itu menguntungkan Israel.
“Sayangnya, mereka membahas semuanya demi kepentingan pendudukan Israel, dan tidak menyebutkan apa pun tentang mengakhiri pengepungan Gaza oleh Israel—yang didukung secara internasional—masuknya makanan, obat-obatan, dan barang-barang penting lainnya ke Gaza, atau rekonstruksi Gaza,” tulis Dalloul dalam sebuah unggahan di X.
“Ya, mereka menyebutkan rekonstruksi, tetapi dalam konteks pemerasan terhadap kami.”[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy