Melampaui Romantisme Sejarah, Generasi Muda Aceh Diajak Hidupkan ‘Karamah Sosial’ Wakaf

Pengelola Wakaf Baitul Asyi Habib Bugak Al Asyi
Lembaga Wakaf Baitul Asyi Habib Bugak Al-Asyi usai membagikan dana wakaf kepada jemaah haji Aceh tahun 2026. Foto: dok/istimewa

Makkah – Penyaluran dana Baitul Asyi di Tanah Suci bukan lagi sekadar rutinitas tahunan bagi jemaah haji Aceh. Fenomena abadi ini adalah sebuah pesan spiritual besar tentang bagaimana keikhlasan berwakaf mampu menembus ruang waktu dan memberi dampak nyata lintas generasi.

Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh sekaligus Ketua PWNU Aceh, Teungku H. Faisal Ali (Abu Sibreh), menilai penyaluran dana Baitul Asyi merupakan bukti kuat bahwa tradisi wakaf dalam Islam memiliki dampak sosial dan ekonomi yang sangat besar.

Menurut Abu Sibreh, apa yang dilakukan oleh ulama besar Habib Bugak Al-Asyi pada masa Kesultanan Aceh Darussalam silam merupakan potret keindahan syariat Islam yang menggetarkan hati sekaligus bukti nyata kekuatan ekonomi umat.

Meneladani, Bukan Sekadar Mengenang

“Ini adalah karamah sosial dari wakaf. Habib Bugak Al-Asyi telah memberi contoh bahwa harta yang diwakafkan dengan niat ikhlas akan terus mengalir manfaatnya. Jamaah haji Aceh hari ini masih menikmati keberkahan itu,” kata Abu Sibreh, dilansir NU Online, Sabtu, 30 Mei 2026.

Namun, Abu Sibreh mengingatkan masyarakat Aceh agar tidak terjebak dalam romantisme sejarah. Warisan Baitul Asyi bukan hanya untuk dibanggakan, melainkan harus menjadi cambuk spiritual bagi generasi saat ini untuk melahirkan gerakan wakaf produktif yang baru. Menurutnya, Aceh memiliki sejarah panjang dalam gerakan wakaf, pendidikan Islam, dayah, dan pelayanan umat.

“Baitul Asyi harus menjadi inspirasi. Kita tidak cukup hanya mengenang Habib Bugak Al-Asyi, tetapi juga harus meneladani semangat beliau. Wakaf harus terus digerakkan untuk pendidikan, ekonomi umat, pelayanan sosial, dan kemaslahatan masyarakat,” tegasnya.

Abu Sibreh mengapresiasi pengelolaan Baitul Asyi yang hingga kini tetap memberi manfaat nyata bagi jemaah haji Aceh. Ia berharap tata kelola wakaf tersebut terus dilakukan secara amanah, transparan, dan berorientasi pada kemaslahatan jemaah.

Pesan senada juga datang dari Menteri Haji RI, K.H. Mochamad Irfan Yusuf, yang hadir langsung di Makkah. Ia menyampaikan kekagumannya terhadap visi jangka panjang Habib Bugak yang mewakafkan rumahnya di depan Masjidil Haram demi memuliakan jemaah tanah kelahirannya.

“Mudah-mudahan langkah mulia dan visioner dari wakaf Habib Bugak Al-Asyi ini dapat menginspirasi dan diikuti oleh provinsi-provinsi lain di Indonesia,” harap Menhaj.

Baca Juga: Cair! Jemaah Haji Aceh Terima 2.000 Riyal dari Wakaf Baitul Asyi Berusia 2 Abad, Ini Kisahnya

Total Rp51,5 Miliar

Sebagai informasi, pada musim haji 2026 ini, Lembaga Wakaf Baitul Asyi Habib Bugak Al-Asyi menyalurkan dana kompensasi penginapan dengan total mencapai Rp51,5 miliar (kurs 1 Riyal = Rp4.700).

Dana ini dibagikan kepada 5.484 jemaah haji asal Aceh yang tergabung dalam 14 kelompok terbang (kloter). Masing-masing jemaah menerima tunai sebesar 2.000 Riyal Arab Saudi, nominal standar baru yang berlaku sejak musim haji 2025 lalu.

Penyerahan dana pamungkas untuk Kloter 13 dan 14 dilakukan langsung oleh Nazir Baitul Asyi, Syekh Abdurrahman Al-Asyi, di Masjid Hotel Abraj Al-Wahdah, kawasan Jarwal, Kota Makkah. Prosesi ini disaksikan langsung oleh Menteri Haji RI, anggota DPR RI Nasir Djamil, serta Imam Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, Abu Paya Pasi.

Petugas Haji Aceh, Teungku Khairul Huda, menyebut para jemaah menyambut penyerahan dana tersebut dengan penuh syukur. Mereka merasa terharu karena masih merasakan manfaat dari wakaf Habib Bugak.

“Ini sangat membantu jamaah, terutama untuk kebutuhan selama di Makkah. Lebih dari itu, ini menjadi bukti bahwa wakaf yang dikelola dengan baik dapat memberi manfaat lintas generasi,” kata Khairul Huda, pekan lalu.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy