BKKBN Aceh: Program Genting, Gerakan Cegah Stunting dari Tingkat Desa

Kepala Perwakilan BKKBN Aceh Safrina Salim
Kepala Perwakilan BKKBN Aceh, Safrina Salim. Foto: Fakhrurrazi/Line1.News

Banda Aceh – Kementerian Kependdudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) terus melakukan upaya serius untuk menurunkan angka stunting di Tanah Rencong.

Kepala Perwakilan BKKBN Aceh, Safrina Salim menjelaskan salah satu upaya untuk menerunkan angka keluarga berisiko stunting adalah program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting).

“Program Genting ini salah satu program nasional. Sekarang ini PR kita adalah stunting dan salah satu strategi yang diangkat oleh Kemenduk Bangga adalah program Genting,” ucap Safrina di Banda Aceh, Selasa, 11 November 2025.

Safrina menilai angka stunting di Indonesia masih sangat tinggi. BKKBN mengupayakan penguatan penurunan angka stunting melalui gerakan bersama dari tingkat gampong (desa).

Safrina menjelaskan program Genting difokuskan untuk mendampingi keluarga berisiko stunting melalui pendekatan gotong royong lintas sektor.

“Di Aceh ada 38.004 keluarga berisiko stunting harus terdampingi di tahun 2025 ini. Dan 38.004 itu sudah kita bagi ke kabupaten/kota,” kata Safrina.

Menurut Safrina, sasaran utama program ini yaitu periode seribu Hari Pertama Kehidupan (HPK). Mereka adalah ibu hamil, ibu menyusui, hingga anak berusia dua tahun (Baduta).

“Karena di seribu hari pertama kehidupan itu merupakan periode emas. Pertumbuhan dan perkembangan anak harus sesuai dengan umur. Apabila itu sudah terlewatkan, artinya anak itu sudah terjaga,” jelasnya.

Untuk memastikan pendampingan berjalan optimal, BKKBN menyiapkan Tim Pendamping Keluarga (TPK) di setiap desa, yang terdiri dari bidan, kader KB, dan anggota PKK. Mereka bertugas memberikan pendampingan intensif kepada ibu hamil, ibu menyusui, dan anak usia di bawah dua tahun atau Baduta.

Dia menyebut Genting bukan program berbasis anggaran pemerintah, melainkan gerakan sosial yang mengandalkan dukungan masyarakat dan dunia usaha melalui CSR.

Selain memperbaiki gizi, program ini juga menargetkan peningkatan akses terhadap jamban sehat dan air bersih, yang selama ini menjadi faktor penyumbang kasus stunting di berbagai daerah.

“Kita melihat sasarannya itu adalah jamban dan penggunaan air bersih. Nah, rumah-rumah keluarga berisiko stunting itu yang menjadi sasaran yang akan kita dampingi,” ungkap dia.

Safrina mengaku optimis program Genting bakal dapat menurunkan angka stunting di Provinsi Aceh. Saat ini, angka stunting di Aceh masih berada di kisaran 28,06 persen.

“Kita yakin, kalau sejak hamil keluarga sudah mendapat pendampingan, maka anak yang lahir akan sehat dan tidak lagi menambah angka stunting maupun kematian ibu dan balita,” ujarnya.

Dia menuturkan upaya melalui keluarga berisiko stunting by name by address memungkinkan pendampingan dilakukan secara personal dan terukur hingga ke tingkat gampong.

Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), penurunan stunting di Aceh tahun lalu tercatat 0,8 persen, lebih rendah dibandingkan survei sebelumnya yang mencapai 1,5 persen.

Meski tren stunting di Aceh menunjukkan penurunan, laju perbaikan masih relatif lambat. “Penurunan memang ada, tapi masih muncul kasus stunting baru. Karena itu, kuncinya bukan hanya menurunkan angka, tetapi memastikan tidak lahir lagi anak-anak yang stunting,” ujar Safrina.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy