Di Forum DPD RI Batam, Haili Yoga Desak Pusat Perkuat Infrastruktur Medis Wilayah Tengah Aceh

Bupati Haili Yoga dan anggota DPD forum Batam
Bupati Aceh Tengah Haili Yoga (kiri) berfoto bersama Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamudin usai menerima buku Green Democracy dalam pertemuan DPD RI Subwilayah Barat I di Batam, Jumat (11/9/2026). Kehadiran kepala daerah ini membawa misi strategis untuk memperjuangkan pemulihan pascabencana, stabilisasi harga kebutuhan pokok, serta peningkatan mutu pelayanan kesehatan di Dataran Tinggi Gayo. Foto: Humas Aceh Tengah

Batam, Line1News – Di balik dinginnya kabut Dataran Tinggi Gayo, tersimpan sebuah perjuangan sunyi tentang layanan kesehatan warga. Ketika seorang pasien di wilayah tengah Aceh membutuhkan penanganan medis darurat, taruhannya adalah waktu: mereka harus menempuh perjalanan darat yang melelahkan selama 10 hingga 12 jam demi menembus rumah sakit rujukan di wilayah pesisir.

Kenyataan getir inilah yang dibawa langsung oleh Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga, menyeberangi lautan menuju Kota Batam, Kepulauan Riau. Di hadapan puluhan senator, ia menyuarakan jeritan hati masyarakatnya dalam Rapat Anggota DPD RI Subwilayah Barat I yang digelar di Hotel Wyndham Panbil, Jumat, 11 September 2026.

Aceh Tengah bukan sekadar sebuah kabupaten. Wilayah ini adalah urat nadi sekaligus tumpuan harapan bagi masyarakat dari empat kabupaten tetangga—termasuk Bener Meriah, Gayo Lues, hingga sebagian Aceh Tenggara—saat mereka mencari kesembuhan. Namun, beban berat sebagai rumah sakit rujukan wilayah tengah itu kini harus dipikul oleh fasilitas medis yang sebagian gedungnya sudah menua dan berusia puluhan tahun.

“Peningkatan kapasitas dan kualitas fasilitas kesehatan di Aceh Tengah sudah menjadi kebutuhan yang sangat mendesak. Di satu sisi kami terus berbenah dengan beberapa gedung baru, namun di sisi lain, wajah lama fasilitas pendukung kita masih memerlukan pembenahan besar-besaran agar masyarakat mendapatkan pelayanan yang layak,” ujar Haili Yoga.

Dari Tembok Rumah Sakit Tua hingga Pekatnya Harga Semen

Perjuangan Haili Yoga di forum DPD RI tersebut tidak hanya terbatas pada urusan ranjang rumah sakit dan ruang operasi. Da juga membeberkan bagaimana letak geografis yang terkunci di pegunungan berimbas langsung pada isi dompet dan dapur warganya.

Akibat tingginya biaya distribusi barang yang harus melewati jalanan berliku, harga kebutuhan pokok dan bahan bangunan di Aceh Tengah melonjak tinggi. Tekanan ekonomi ini begitu nyata, digambarkan dengan harga semen yang pernah meroket hingga Rp120 ribu per sak. Angka yang mencekik bagi warga yang sedang berikhtiar membangun rumah atau memulihkan kehidupan mereka.

Melalui forum bertema “Penguatan Sumatra Economic Corridor dan Pemulihan Pascabencana di Provinsi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat” ini, Haili menaruh harapan besar agar pemerintah pusat tidak lagi memandang sebelah mata kawasan tengah Aceh. Sinergi antara daerah, DPD RI, dan pusat adalah kunci utama untuk memangkas jurang kesenjangan pembangunan antarwilayah.

Solidaritas Sumatra untuk Daerah Terdampak Bencana

Rapat besar yang mempertemukan sekitar 40 anggota DPD RI se-Sumatra ini turut dihadiri oleh tokoh-tokoh penting, mulai dari Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamuddin, Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya, Wakil Gubernur Aceh Fadullah, hingga trio senator asal Serambi Mekah; Haji Uma, Teungku Ahmada, dan Azhari Cage.

Sebagai tuan rumah, Anggota DPD RI Perwakilan Kepulauan Riau, Ismeth Abdullah, menegaskan bahwa pertemuan ini adalah bentuk pelukan hangat dan solidaritas konkret dari para wakil rakyat terhadap derita bencana alam yang sempat mengguncang Aceh, Sumbar, dan Sumut.

“Pertemuan hari ini sangat penting karena kita akan membahas berbagai program pemulihan pascabencana. Tujuan utamanya adalah memastikan masyarakat yang terdampak bencana dapat segera kembali menjalani kehidupan sehari-hari dengan kondisi yang lebih baik,” ujar Ismeth Abdullah.

Bagi Ismeth, memulihkan kehidupan warga tidak bisa dipisahkan dari upaya membangun kembali sendi-sendi infrastruktur yang hancur diterjang bencana.

“Infrastruktur yang hancur harus segera dibangun kembali dan dapat berfungsi dengan baik, sehingga mampu mendukung kembali aktivitas serta roda perekonomian di tiga provinsi tersebut,” tambahnya tegas.

Pertemuan di Batam ini akhirnya menjadi ruang diplomasi yang humanis. Bagi masyarakat Dataran Tinggi Gayo, proposal dan ketukan palu di ruang rapat tersebut adalah secercah asa agar pelayanan medis yang layak tidak lagi berjarak belasan jam perjalanan, dan roda ekonomi bisa berputar dengan lebih ramah di atas tanah mereka.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy