Tel Aviv – Eskalasi di Timur Tengah mencapai titik didih yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Sabtu, 28 Maret 2026, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) secara resmi mengumumkan deteksi serangan rudal yang meluncur deras dari arah Yaman menuju kawasan strategis Negev di selatan Israel.
Menurut laporan RT, serangan ini menjadi gong pertanda kelompok Houthi (Ansharallah) akhirnya resmi terjun ke gelanggang perang, bergabung dengan aliansi Iran dan Hizbullah untuk pertama kalinya. Sirene bahaya meraung membelah langit, memaksa warga sipil berlarian ke bunker perlindungan di tengah ancaman yang kian nyata. Israel War Room juga mengonfirmasi hal itu.
Houthi: “Kami Tidak akan Tinggal Diam!”
Juru Bicara Houthi, Yahya Saree, menegaskan intervensi militer ini adalah balasan atas keterlibatan negara baru yang membantu AS dan Israel menyerang Iran. Saree bersumpah akan menjadikan Laut Merah sebagai medan tempur maut jika wilayah tersebut digunakan untuk menargetkan negara Muslim.
“Kami akan berpartisipasi dalam intervensi militer jika ada negara baru yang bergabung dengan AS dan Israel dalam perang melawan Iran,” tegas Saree dalam pernyataan, Jumat (27/3).
Gempuran Maut di Pulau Bubiyan
Di saat yang hampir sama, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) melancarkan serangan kejutan dalam gelombang ke-84 Operasi ‘True Promise 4’ ke Pulau Bubiyan, Kuwait, Jumat malam (27/3), dilansir Saba News. Menggunakan kombinasi rudal balistik dan drone bunuh diri, IRGC mengeklaim sejumlah marinir AS tewas dan kocar-kacir.
Para korban luka dilaporkan telah dilarikan ke RS Saleh Al-Sabah, RS Mohammed Al-Ahmad, dan RS Ali Al-Salem di Kuwait untuk penanganan darurat.
Peringatan Keras Bagi Warga Sipil
IRGC menegaskan tidak akan berhenti hingga pengusiran pasukan AS dari tanah Muslim tuntas. Mereka juga mengeluarkan peringatan keras bagi warga lokal di Timur Tengah.
“Jauhi area di mana pasukan Amerika berada, supaya tidak menjadi korban,” bunyi pernyataan IRGC, disiarkan media nasional Iran, Jumat (27/3).
Iran Siapkan ‘Kota Rudal’ Bawah Tanah
Komandan Angkatan Darat IRGC, Brigadir Jenderal Mohammad Karami, Selasa (24/3), menyatakan pasukannya kini berada di puncak kesiapan tempur. Dilansir Fars News, Iran dilaporkan telah menebalkan sistem pertahanan di perbatasan Irak dan Selat Hormuz, didukung oleh jaringan “kota rudal” bawah tanah yang mampu menghancurkan target di dalam maupun luar perbatasan.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy