Khutbah Jumat: Tinggalkan 6 Perkara Demi Meraih Keselamatan Akhirat

ilustrasi larangan
ilustrasi larangan. Foto: NU Online

Sidang Jumat Rahimakumullah

Puji dan syukur marilah kita panjatkan ke Hadirat Allah SWT. Zat yang tak henti-hentinya melimpahkan nikmat-Nya kepada kita. Shalawat dan salam semoga tetap terlimpah kepada Nabi kita Muhammad SAW beserta keluarga, para sahabat, tabiin dan tabiatnya, hingga kepada kita selaku umatnya.

Mengutip penyataan Imam Wahb bin Munabbih, Syekh Imam Nawawi dalam kitab Nashaihul Ibad, halaman 77, menyatakan, ada enam perkara ini yang harus kita tinggalkan jika menginginkan keselamatan akhirat.

Pertama, tinggalkanlah kemarahan, niscaya di akhirat kita akan bertetangga dengan Allah. Artinya, jika pandai menahan amarah, kita akan dekat dan bersahabat dengan Allah. Berkenaan dengan ini, Rasulullah SAW jauh-jauh hari sudah mengingatkan kepada kita semua: “Orang kuat itu bukan yang kuat bergulat, melainkan orang kuat itu yang mampu mengendalikan nafsunya di kala marah,” (HR Al-Bukhari).

Menurut hadis ini, ternyata orang hebat dan kuat, bukan yang teriakannya keras dan lantang, melainkan yang mampu mengendalikan hawa nafsu dan kemarahannya.

Sidang Jumat yang dirahmati Allah

Yang kedua tinggalkan tipu daya dunia dan perkara yang haram, niscaya kita akan aman dan selamat pada hari Kiamat. Bukan berarti kita harus menolak dunia, karena tanpa dunia kita tidak akan bisa sampai ke akhirat. Namun, jangan jadikan dunia sebagai sebagai tujuan dan orientasi hidup. Justru jadikanlah sebagai fasilitas dan jembatan meraih kemuliaan akhirat.

Ingatlah bahwa kehidupan akhirat itu lebih bagus dan lebih kekal dari kehidupan dunia, sebagaimana difirmankan Allah dalam Al-Quran: “Dan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal,” (QS. Al-A’la [87]: 17).

Mengapa kita tidak boleh menjadikan dunia sebagai tujuan? Sebab, sikap demikian hanya akan mendekatkan kita kepada sifat-sifat tercela seperti rakus, tamak, dan berani mengambil perkara syubhat, makruh, bahkan yang haram.

Yang ketiga tinggalkan sifat sombong, niscaya di akhirat kita akan mulia di hadapan Allah Sang Maha Raja.

Sungguh Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong. Mengapa tidak menyukainya? Sebab, kesombongan adalah pakaian kebesaran-Nya. Makanya pantas jika orang yang memiliki sifat ini, di akhirat akan berjumpa dengan Allah dalam keadaan murka kepadanya. Demikian sebagaimana penuturan Rasulullah dalam haditsnya: “Tidaklah seorang laki-laki yang menyombongkan diri dalam hatinya dan bergaya congkak dalam gaya berjalannya, kecuali akan berjumpa dengan Allah dalam keadaan marah kepadanya,” (HR Ahmad).

Yang keempat, tinggalkan sikap berlebihan dan tidak ada maknanya, niscaya kita akan dikumpulkan bersama orang-orang baik. Sikap berlebihan ini, menyangkut dalam segala hal, baik dalam pembicaraan, perbuatan, makanan, tidur, bahkan dalam ibadah sekalipun. Pantas Allah mengingatkan dalam Al-Quran: “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan,” QS. Al-A’raf [7]: 31).

Masyiral Muslimin rahimakumullah

Yang kelima, tinggalkanlah permusuhan dan persengketaan, niscaya selamat dan beruntung pada hari Kiamat. Kewajiban meninggalkan permusuhan dan perintah berdamai ini sudah disampaikan dalam Al-Quran: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah kedua saudaramu (yang bertikai) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu dirahmati,” QS. Al-Hujurat [49]: 10).

Melalui ayat ini, Allah menegaskan bahwa sesama mukmin itu adalah bersaudara, sehingga tidak boleh berseteru dan bermusuhan. Sebab, boleh jadi jika permusuhan itu tidak diselesaikan di dunia, akan berlanjut di akhirat. Akibatnya, kita bersetaru akan saling sandera dan saling sita amal kebaikan di akhirat.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Yang keenam, tinggalkanlah kekikiran dan sifat bakhil atau pelit, niscaya kita akan disebut-sebut di hadapan para makhluk. Disampaikan Rasulullah SAW, tidak akan berkumpul antara keimanan dengan kekikiran: “Tidak akan berkumpul keimanan dan kekikiran dalam hati seorang mukmin,” (HR Ibnu Sa’d).

Jika memperhatikan hadis di atas, sifat kikir bukanlah sifat seorang mukmin. Sebab, tidak akan berkumpul antara sifat iman dengan sifat kikir. Maka sebagai komitmen kita sebagai seorang mukmin, tinggalkanlah sifat itu dan segera menggantinya dengan sifat dermawan dan murah hati.

Itulah enam perkara yang selayaknya kita tinggalkan jika benar-benar mengharap kenikmatan dan kebahagiaan akhirat.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy