Lhokseumawe – Dua mahasiswa Jurusan Bimbingan dan Konseling Islam (BKI) Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah (FUAD) UIN Sultanah Nahrasiyah (Suna) Lhokseumawe mengangkat potensi Rah Ulei pada “The 10th International Conference on Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS)”.
ICAIOS ke-10 itu digelar di BSI Landmark Aceh Green Building, Banda Aceh, belum lama ini. Kegiatan tersebut dihadiri akademisi, peneliti, dan praktisi dari berbagai negara Asean dan luar kawasan. Forum ini menjadi ajang pertukaran ide, inovasi penelitian, dan penguatan jejaring akademik lintas negara.
Kehadiran mahasiswa BKI FUAD UIN Suna sebagai presenter menjadi sorotan lantaran menunjukkan kemampuan generasi muda Aceh dalam bersaing di kancah internasional.
Kedua mahasiswa itu, Fitdaturrahmi dan Raudhatul Jannah tampil mengusung tema unik berbasis kearifan lokal Aceh. Mereka mempresentasikan artikel berjudul “Rah Ulei as Indigenous Hydrotherapy: Exploring Spiritual Healing and Inner Peace in Bireuen Aceh”.
“Topik tersebut membahas potensi Rah Ulei, sebuah metode hidroterapi tradisional yang berkembang di Aceh, sebagai media penyembuhan spiritual (spiritual healing) dan sarana mencapai ketenangan batin (inner peace),” bunyi keterangan dilansir laman FUAD UIN Suna Lhokseumawe, dikutip pada Ahad, 24 Agustus 2025.
Penelitian ini disebut memadukan pendekatan psikoterapi Islam, sufistik, kearifan lokal, dan perspektif kesehatan mental modern.
Dalam presentasinya, penulis artikel memaparkan Rah Ulei tidak hanya berfungsi sebagai terapi fisik. Akan tetapi, juga memiliki nilai spiritual yang kuat, mampu membantu individu mengelola emosi, mengurangi stres, dan memperkuat hubungan batin dengan Sang Pencipta.
Topik presentasi mereka menarik perhatian para praktisi, peneliti, dan peserta ICAIOS ke-10.
“Kita patut bangga karena mahasiswa mulai berani tampil di forum internasional, dengan mengangkat kekayaan budaya Aceh,” kata Nurul Hikmah, dosen BKI yang juga Wakil Dekan II FUAD UIN Suna Lhokseumawe.
Nurul berharap penelitian ini menjadi pintu masuk bagi pengembangan psikoterapi berbasis kearifan lokal. “Yang bisa dikaji secara ilmiah dan relevan untuk pengembangan ilmu bimbingan dan konseling Islam,” ujarnya.
Dekan FUAD UIN Suna, Ruhama Wazna menyampaikan apresiasi atas pencapaian dua mahasiswi itu. “Ini bukan hanya prestasi personal, tetapi juga kebanggaan bersama bagi seluruh sivitas akademika. Mahasiswa BKI telah membuktikan bahwa mereka mampu menjadi duta keilmuan di tingkat internasional. Kita akan support sepenuhnya” ucapnya.
Pencapaian ini diharapkan menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk berani mengeksplorasi topik-topik lokal yang memiliki relevansi global.
“Jurusan BKI berkomitmen untuk terus mendorong lahirnya karya ilmiah yang tidak hanya berkualitas, tetapi juga mencerminkan identitas dan kekayaan budaya Aceh”.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy