Jeddah – Jauh sebelum gemerlap festival modern dan deretan mal mewah mendominasi Arab Saudi, Hari Raya Idulfitri dirayakan dengan kesederhanaan yang mendalam. Bagi para lansia di Kerajaan tersebut, kenangan era 1950-an dan 1960-an adalah masa-masa emas yang tak tergantikan oleh kecanggihan teknologi masa kini.
Berikut adalah potret hangat lebaran jadul di tanah para Nabi yang penuh makna:
Menunggu Keranjang Manis “Al Hawwamah”
Dua atau tiga hari sebelum 1 Syawal, suasana mulai riuh. Anak-anak di wilayah Najd dan Hejaz biasanya berkumpul di area Palm Wall. Mereka menanti tradisi Al Hawwamah atau Hagag, yaitu keranjang berisi buncis kering dan manisan alsaew—kacang almond berlapis gula warna-warni hasil kreasi para ibu.
“Kami akan mengetuk setiap pintu meminta hadiah Idulfitri sambil memamerkan baju baru,” kenang Sarah Al Dowayan, mantan warga Ash Shu’ara.
Aroma Mashat dan Gaun “Besi”
Bagi kaum wanita, persiapan kecantikan adalah ritual sakral. Tak ada salon mewah, mereka menggunakan Mashat, ramuan herbal merah mirip pacar yang dicampur minyak rambut untuk memberikan aroma aromatik yang khas.
Menariknya, ada istilah “gaun dijahit dari besi”. Tentu bukan besi sungguhan, melainkan kiasan untuk kualitas jahitan tangan para ibu yang sangat kuat dan kain berkualitas tinggi yang tidak mudah rusak.
Penunggang Unta Pembawa Kabar Lebaran
Bagaimana orang zaman dulu tahu kalau besok Lebaran? Di era 50-an, radio portabel adalah barang mewah yang langka. Seringkali, kepastian 1 Syawal dibawa oleh para penunggang unta berbaju putih bersih yang melintasi gurun.
“Pernah suatu kali kami sedang berpuasa di hari ke-30, tiba-tiba sekelompok penunggang unta datang mengumumkan bahwa hari itu sudah Idulfitri,” ujar Battal Al-Mutairi, warga Qassim. Karena jarak yang jauh, tak jarang satu kota dengan kota lainnya merayakan Lebaran di hari yang berbeda.
Makan Besar di Bawah Pohon Tamarin
Usai salat Id, tradisi berbagi makanan menjadi puncak kebersamaan. Para pria berkumpul di area terbuka, membawa hidangan rumah ke bawah naungan pohon tamarin.
Sistemnya sangat sosialis dan hangat: semua piring diletakkan bersama, lalu digeser berputar agar semua orang bisa mencicipi setiap hidangan. Siapa pun boleh bergabung, meski tidak membawa makanan.
Pesta Rahasia Kaum Wanita
Di sudut jalan yang khusus ditutup untuk wanita, suasana tak kalah meriah. Mereka menari, menyanyi, dan memamerkan gaun terbaik mereka. Hidangan tradisional seperti Jareesh (gandum susu), Margoog (rebusan domba), hingga Manthora (jagung fermentasi) menjadi primadona.
“Saat kami menari di jalan khusus wanita, para pria sering mencoba mengintip sembunyi-sembunyi, mungkin sambil mencari calon pengantin,” canda Sarah Al Dowayan mengenang masa mudanya.
Meski kini Arab Saudi telah berubah menjadi negara modern dengan festival kembang api raksasa, jejak kesederhanaan dan ketulusan silaturahmi di bawah pohon tamarin tetap menjadi cerita yang diceritakan turun-temurun.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy