Mengubah Sampah Menjadi Berkah:

PHE NSO Tanamkan Karakter Peduli Lingkungan di SMPN 6 Lhokseumawe

PHE NSO di SPMN 6 Lhokseumawe
Sebuah komitmen demi masa depan hijau: Perwakilan PHE NSO bersama para pemangku kepentingan saat meresmikan program bank sampah di SMPN 6 Lhokseumawe. Melalui edukasi pemilahan dan pemanfaatan limbah, generasi muda di Lhokseumawe diharapkan menjadi penjaga kelestarian lingkungan. Foto: Humas PHE NSO

Lhokseumawe, Line1News – Masa depan bumi yang bersih dan hijau kini berada di tangan generasi muda. Menyadari hal tersebut, Pertamina Hulu Energi North Sumatra Offshore (PHE NSO) bersama Cendikia Foundation hadir membawa secercah harapan lewat pelatihan pengelolaan limbah organik dan anorganik di SMP Negeri 6 Lhokseumawe, Gampong Batuphat Timur, Kecamatan Muara Satu.

Bukan sekadar program biasa, pelatihan yang berlangsung pada 19–20 Mei 2026 ini menyentuh hati puluhan siswa dan menyalakan api kepedulian mereka untuk mulai bergerak, memilah, dan mengelola sampah dari lingkungan terdekat mereka sendiri.

Field Manager (FM) PHE NSO, Rizki Kushardani mengungkapkan bahwa program aktivasi bank sampah ini adalah panggilan jiwa untuk membangun karakter anak-anak bangsa. Di sini, para siswa diajak melihat sisi lain dari limbah rumah tangga—bukan lagi sebagai kotoran yang dibuang, melainkan potensi ekonomi yang bernilai tinggi dan membawa berkah bagi lingkungan.

“Program ini merupakan langkah strategis dalam memperkuat kapasitas peserta didik agar lebih peduli terhadap lingkungan. Melalui program ini sekolah juga diharapkan bisa menjadi pusat edukasi lingkungan,” ujar ujar Rizki melalui keterangan resmi, Selasa (9/6).

Belajar Seru di Luar Kelas

[Belajar dengan ceria: Seorang instruktur sedang mendampingi siswa-siswi SMPN 6 Lhokseumawe dalam sesi diskusi interaktif pelatihan pengelolaan sampah. Pendekatan yang menyenangkan ini dirancang untuk menanamkan karakter peduli lingkungan sejak dini secara kreatif. Foto: Humas PHE NSO]

Suasana pelatihan pun tampak hidup dan jauh dari kesan membosankan. Di bawah tenda halaman sekolah, para siswa duduk berkelompok, berdiskusi, dan memegang langsung contoh-contoh kemasan limbah. Dipandu oleh instruktur yang komunikatif, mereka ditantang untuk berpikir kritis dalam memilah sampah harian mereka, mengubah teori menjadi sebuah aksi nyata yang menyenangkan.

110 Ton Sampah/Hari 

Setiap hari, Kota Lhokseumawe harus berhadapan dengan kenyataan pahit: produksi sampah mencapai 110 ton, atau 3.300 ton hingga 3.410 ton setiap bulannya. Namun, tantangan besar ini tidak menyurutkan semangat. Inisiatif PHE NSO ini hadir menyokong gerakan Pemerintah Kota Lhokseumawe melalui program “Broh Jeut Keu Peng” (Sampah Jadi Uang), sebuah inovasi berbasis ekonomi sirkular.

Selama dua hari, mata para siswa berbinar saat mempelajari teknik pemilahan sampah, cara kerja bank sampah, hingga keajaiban menyulap barang bekas menjadi produk yang memiliki nilai jual.

Harapan DLH

Apresiasi mendalam pun datang dari Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Lhokseumawe, Zulfikar Syarif. Ia menyambut hangat sinergi ini dan berharap virus kebaikan ini bisa menular ke sekolah-sekolah lain.

“Kegiatan ini sangat bagus karena menumbuhkan kesadaran kepedulian terhadap lingkungan dari sekolah. Saya mendukung program pengembangan bank sampah di sekolah. Sekolah diharapkan menjadi garda terdepan dalam menanamkan karakter peduli lingkungan terhadap generasi muda dan warga sekitar,” tutur Zulfikar.

Program tersebut terlaksana berkat jalinan erat kolaborasi multipihak, mulai dari Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lhokseumawe, Pemerintah Kecamatan Muara Satu, hingga Keuchik Batuphat Timur. Sinergi ini menjadi ‘energi baru’ yang membawa optimisme dalam menjaga kelestarian lingkungan demi masa depan anak cucu nanti.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy