Debat Kedua Pilkada Aceh 2024

Tanggapi Syeh Fadhil Soal Pertanian, Mualem: ‘Hana Peu Cet Langet!’

Mualem soal pertanian
Mualem saat menanggapi penjelasan Syeh Fadhil soal transformasi pertanian dalam debat kedua antarpaslon gubernur-wagub digelar KIP Aceh di Banda Aceh, Jumat, 1 November 2024, malam. Foto: Tangkapan layar Youtube KIP Aceh

Banda Aceh – Debat kedua antarpasangan calon gubernur-wakil gubernur Aceh, Bustami Hamzah-M. Fadhil Rahmi dan Muzakir Manaf-Fadhlullah, diwarnai gimmick (gimik) yang mengundang tawa para penonton. Di antaranya, ketika Muzakir Manaf atau Mualem berkata, “Hana peu cet langet”, menanggapi jawaban Fadhil Rahmi atau Syeh Fadhil soal transformasi pertanian.

Ucapan Mualem dalam bahasa Aceh itu muncul pada segmen ketiga dengan tema “Menuju Aceh yang sejahtera dan mandiri”.

Mulanya, dalam debat kedua digelar KIP Aceh di Banda Aceh, Jumat, 1 November 2024, malam, itu moderator membacakan pertanyaan dari panelis.

“Transformasi pertanian dan hilirisasi strategis yang dikombinasikan dengan produktivitas lahan dan kualitas tenaga kerja membutuhkan investasi yang tidak sedikit jumlahnya. Pertanyaannya, apa kiat dan strategi paslon untuk mewujudkan transformasi pertanian dan hilirisasi dimaksud yang nyata untuk meningkatkan ekonomi rakyat dan investasi?”

Baca juga: Jawaban Bustami dan Dek Fad Soal Strategi Memanfaatkan Teknologi Dalam Mengoptimalkan Pendapatan Daerah

Moderator memberikan kesempat kepada paslon nomor urut 01 untuk menjawab.

Syeh Fadhil mengatakan, “Untuk meningkatkan produktivitas pertanian, ada beberapa langkah yang akan kita lakukan, dan ini senada dengan apa yang diinginkan oleh Presiden Prabowo Subianto tentang ketahanan pangan nasional”.

“Pertama, tentu mengikutsertakan teknologi seperti apa penemuan yang ditemukan oleh Teungku Ibnu Hajar yang ada di Darul Imarah, Aceh Besar, drone pertanian. Untuk meningkatkan kualitas pertanian, drone pertanian yang dihasilkan inovasi oleh SDM yang luar biasa Aceh ini akan kita coba kembangkan,” ujar Syeh Fadhil.

Syeh Fadhil melanjutkan, “Yang kedua, tentu juga peningkatan kualitas SDM, kita ingin para alumni yang hadir dari universitas-universitas di Aceh yang bergerak dan juga di agrobisnis ini menjadi orang-orang yang kompeten untuk menjawab tantangan pertanian ini”.

“Yang ketiga, hilirisasi, artinya diversifikasi keanekaragaman pertanian itu harus kita utamakan tidak hanya sebagai bahan mentah, tapi juga menjadi bahan yang siap pakai, bahan yang sudah jadi, sehingga nilainya bertambah. Dan tentu juga kita ingin pertanian Aceh menjadi lebih baik ke depan,” tambah Syeh Fadhil.

Lihat juga: Akses Kesehatan Berkualitas: Mualem-Dek Fad akan Bangun RS Regional, Bustami-Fadhil Perkuat Puskesmas-RSUD

Menanggapi Syeh Fadhil, Mualem berkata, “Sebenarjih perkara pertanian hana peu cet langet. Peu ta cet langet, [bicara tentang] pertanian, irigasi beugot [harus bagus], lueng [saluran] irigasi beugot, pupok beuna [pupuk harus tersedia]. Nyan yang perle [itu yang perlu untuk] pertanian”.

Begitu juga untuk menggarap perkebunan, kata Mualem, “Kebun, sep pupok [pupuk mencukupi], bibit unggul, kabeh [selesai]”.

Fadhlullah atau Dek Fad menambahkan hilirisasi artinya bahan baku di dalam negeri ketika dikeluarkan menjadi bahan yang utuh atau bisa dimanfaatkan. “Kami sesuai program pemerintah pusat sejalan hilirisasi akan kami prioritaskan,” ucapnya.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy