Tijuana – Di balik kemegahan panggung Piala Dunia 2026, tersimpan kisah pilu sekaligus mengharukan dari Tim Nasional Iran. Julukan ‘Los Príncipes de Persia’ (Pangeran Persia) kini berganti menjadi simbol perjuangan melawan ketidakadilan, setelah mereka dipaksa menghadapi rentetan diskriminasi yang menguras emosi, dilansir dari media Meksiko, Récord, 16 Juni 2026.
Langkah awal Iran di atas rumput hijau sebenarnya berbuah manis. Mereka sukses mengamankan hasil imbang 2-2 saat melawan Selandia Baru di tanah Amerika Utara. Namun, peluit panjang akhir pertandingan justru menjadi awal dari mimpi buruk logistik yang menyakitkan hati.
Diusir Tanpa Waktu untuk Bernapas
Usai menguras keringat dan energi di lapangan, tim asuhan Amir Ghalenoei ini tidak diizinkan untuk sekadar meluruskan kaki. Otoritas setempat memaksa mereka angkat kaki dari wilayah Amerika Serikat malam itu juga.
“Kami bahkan tidak diberi waktu untuk memulihkan fisik,” ungkap sang pelatih, Amir Ghalenoei, dengan nada getir. “Setelah pertandingan, mereka langsung berkata: ‘Kalian harus pergi sekarang juga.’ Kami dipaksa naik pesawat kembali ke kamp di Tijuana, Meksiko. Ini sangat mengkhawatirkan.”
Nestapa Iran sejatinya sudah dimulai sebelum turnamen bergulir. Karena alasan keamanan yang sepihak, mereka dilarang berlatih di Tucson, Arizona, dan terpaksa mengungsi ke Tijuana. Luka mereka kian diperdalam ketika Federasi Sepak Bola Iran (FFIRI) mengutuk keras pencabutan hak tiket bagi para pendukungnya. FIFA menjamin 8% tiket untuk fans tiap negara, namun pendukung Iran justru dilarang hadir. Duta Besar Iran untuk Meksiko, Abolfazl Pasandideh, mengonfirmasi situasi ironis ini: mereka hanya diizinkan masuk AS di pagi hari dan wajib keluar di hari yang sama.
Pelukan Hangat Infantino di Ruang Ganti
Di tengah badai ketidakadilan dan ruang ganti yang diselimuti rasa lelah serta air mata, sebuah momen menyentuh terjadi. Presiden FIFA, Gianni Infantino, tiba-tiba hadir di tengah-tengah para pemain Iran. Ia melepas sekat formalitas untuk memberikan pelukan dan kekuatan moral.
“Malam ini kalian menghadapi laga yang sangat berat. Dengan sedikit keberuntungan, kalian rupa-rupanya bisa menang,” ucap Infantino di depan para pemain yang tertunduk lesu. “Kalian telah membuktikan kepada keluarga, teman, dan dunia bahwa kalian sangat layak berada di Piala Dunia ini.”
Infantino juga mengakui besarnya tekanan psikologis yang sedang dipikul oleh skuad Iran.
“Saya tahu apa yang kalian rasakan saat ini. Namun, kalian jauh lebih besar dari semua masalah ini. Kalian sedang mengirimkan pesan yang sangat kuat kepada dunia. Malam ini, kalian berhasil menyatukan semua orang di stadion untuk berdiri dan bersolidaritas mendukung Iran,” lanjutnya menyuntikkan semangat. “Kalian sedang mengukir sejarah. Teruslah bermain dengan hati demi diri kalian, keluarga, dan seluruh orang di dunia yang jatuh cinta pada tim ini. Kalian lebih kuat dari segalanya.”
Kini, dengan sisa-sisa tenaga dan harga diri yang terluka, ‘Pangeran Persia’ harus segera membalut luka mereka. Perjuangan hidup mati akan kembali berlanjut pada 21 Juni mendatang di Stadion Los Angeles untuk melakoni laga kedua, sebelum akhirnya menutup Fase Grup melawan Mesir di Seattle. Mereka mungkin dibatasi oleh dinding-dinding regulasi, namun semangat mereka telah terbang melewati batas lapangan.[]
Baca Juga: Malapetaka di Atlanta! Spanyol Dipermalukan Negara Kepulauan Kecil


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy