Seattle – Sebuah pesawat produksi Boeing, 737 Max, yang dipesan maskapai penerbangan Cina, Xiamen, dikirim kembali ke pabrik perusahaan itu di Seattle, Amerika Serikat (AS) pada Sabtu, 19 April 2025.
Saksi mata Reuters mengatakan, pesawat yang disebut menjadi korban perang dagang Cina-AS, itu mendarat di Lapangan Boeing Seattle pada pukul 06.11 waktu setempat.
Sebelum mendarat di Seattle, pesawat yang telah dicat dengan corak Xiamen itu berhenti mengisi bahan bakar di Guam dan Hawaii dalam perjalanan pulang sejauh 5.000 mil (8.000 kilometer). Menurut sebuah laporan, jet itu terbang kembali ke AS pada Jumat waktu Zhoushan, Cina.
Pesawat itu merupakan salah satu dari tiga jet 737 Max yang menunggu penyelesaian akhir di pabrik Boeing di Zhoushan sebelum diserahkan kepada Xiamen.
Di fasilitasnya di Zhoushan, Cina timur–sekira tiga setengah jam perjalanan dari Shanghai, Boeing memberikan sentuhan akhir pada pesawat yang sudah dibangun, memasang kursi dan mengecat bagian luar.
Kamis lalu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina mengatakan kepada wartawan bahwa mereka “tidak mengetahui” laporan tentang penghentian pesanan Boeing itu.
Padahal, Bloomberg sebelumnya melaporkan pejabat pemerintah Cina telah menginstruksikan maskapai penerbangan domestik agar tidak memesan pesawat baru dari Boeing. Maskapai lokal diharuskan meminta persetujuan pemerintah sebelum mengambil pesawat yang sudah dipesan.
Sejauh ini, tidak jelas pihak mana yang membuat keputusan mengembalikan pesawat ke AS. Boeing dan Xiamen belum menanggapi permintaan konfirmasi. Sementara nasib dua pesawat lainnya di fasilitas Zhoushan belum jelas.
Trump bulan ini menaikkan tarif dasar untuk impor Cina menjadi 145 persen. Sebagai balasan, Cina mengenakan tarif sebesar 125 persen untuk barang-barang AS.
Konsultan penerbangan, IBA, mengatakan Xiamen dapat dirugikan oleh tarif tersebut karena 737 Max baru memiliki nilai pasar sekitar USD 55 juta.
Melansir Fortune, sebagai salah satu pasar perjalanan udara dengan pertumbuhan tercepat di dunia, Cina adalah peluang menguntungkan bagi Boeing.
Pada September 2023, Boeing memperkirakan selama 20 tahun ke depan Cina akan menyumbang 20 persen perjalanan udara dunia. Tiongkok disebut bakal menggandakan armada pesawat komersialnya menjadi sekitar 9.600 jet.
Pada 2018, ketika Boeing membuka fasilitasnya di Zhoushan di tengah pertikaian dagang sebelumnya antara AS dan Cina, para eksekutif memuji sektor penerbangan sebagai “titik terang” perdagangan antara kedua negara.
Namun, hampir tidak ada perusahaan yang luput dari dampak perang dagang baru AS-Cina, terutama perusahaan-perusahaan raksasa industri.
Saham Boeing anjlok 17 persen dalam dua hari usai Trump memberlakukan kebijakan tarifnya pada 2 April. Sebagian besar saham Boeing telah pulih. Sekarang, saham Boeing kembali anjlok 2,5 persen setelah penghentian pesanan pesawat 737 Max tersebut.
Hal yang menguntungkan Boeing adalah perannya sebagai pusat manufaktur AS sejati, jenis bisnis yang diklaim pemerintahan Trump ingin dilindungi dan tidak bisa diabaikan.
Sejauh ini, hal itu tampaknya benar. Pengiriman kembali pesawat itu menarik perhatian Trump. Di postingan media sosialnya, dia menuding menyebut Cina baru saja mengingkari kesepakatan besar Boeing.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy