TEHERAN – Mojtaba Khamenei terpilih sebagai pemimpin spritual tertinggi Iran. Dia dipilih oleh Majelis Pakar Iran untuk menggantikan mendiang ayahnya, Ali Khamenei.
Lembaga keagamaan tersebut menunjuk ulama tingkat menengah berusia 56 tahun, yang selamat dari serangan udara AS-Israel di Iran.
Terpilihnya Mojtaba Khamenei ditentang oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Namun, sikap Trump bertolak belakang dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Putin pada Senin, 9 Maret 2026, berjanji akan memberikan dukungan tanpa henti kepada pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, yang diangkat setelah ayah dan pendahulunya tewas dalam serangan AS-Israel.
“Saya ingin menegaskan kembali dukungan tanpa henti kami untuk Teheran dan solidaritas dengan teman-teman Iran kami,” kata Putin dalam pesan kepada Khamenei.
Putin menyatakan Rusia telah dan akan tetap menjadi mitra yang dapat diandalkan bagi Iran.
“Pada saat Iran menghadapi agresi bersenjata, masa jabatan Anda di posisi tinggi ini tidak diragukan lagi akan membutuhkan keberanian dan dedikasi yang besar,” kata pemimpin Rusia itu.
Dukungan terhadap Mojtaba juga datang dari China. China telah mengakui pergantian kepemimpinan Iran pada Senin. Beijing mengatakan pengangkatan Mojtaba mengikuti prosedur konstitusional dan dilakukan sesuai dengan konstitusi negara.
Beijing juga menentang penargetan terhadap ulama berusia 56 tahun yang menduduki jabatan tersebut.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Guo Jiakun mengatakan China menolak campur tangan eksternal apa pun dalam urusan internal Iran.
Dia menanggapi pernyataan Presiden AS Donald Trump, yang mengatakan pemimpin baru Iran “tidak akan bertahan lama” tanpa “persetujuan” pemerintahannya.
Guo menyerukan penghormatan terhadap kedaulatan Iran dan mendesak diakhirinya konflik segera bersamaan dengan dimulainya kembali dialog diplomatik.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy