Aceh Besar – Suasana Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah di Aceh Besar menyuguhkan fenomena ekonomi yang unik bagi para pelaku UMKM. Di satu sisi, hiruk-pikuk Pasar Lambaro menyaksikan pedagang kue meraup omzet harian hingga Rp800 ribu. Sementara di sisi lain, kawasan Lampisang yang tampak lebih tenang justru mencatatkan lonjakan penjualan hingga 20 persen.
Meski memiliki atmosfer yang berbeda, kedua titik pusat jajanan ini kompak memanen berkah manis dari tradisi silaturahmi masyarakat dan kedatangan tamu luar daerah, membuktikan bahwa roda ekonomi lokal tetap berputar kencang di balik perayaan hari kemenangan, Senin, 23 Maret 2026.
Geliat Ekonomi Manis di Pasar Lambaro: Omzet Tembus Rp800 Ribu per Hari
Melansir laman Pemkab Aceh Besar, di Pasar Lambaro, Kecamatan Ingin Jaya, suasana belanja kebutuhan lebaran terasa sangat kontras. Hasan (48), seorang pedagang kue bolu, tampak sibuk bukan main melayani pembeli yang datang silih berganti. Dengan harga yang bervariasi mulai dari Rp30.000 hingga Rp70.000 per kotak, Hasan mengaku momentum hari raya adalah waktu yang paling ia nantikan setiap tahunnya.
“Alhamdulillah, kalau hari biasa tidak seperti ini. Saat lebaran permintaan naik drastis karena masyarakat butuh sajian untuk tamu silaturahmi.”
— Hasan (48), Pedagang Kue di Pasar Lambaro.
Dalam sehari, Hasan mampu meraup omzet penjualan mencapai Rp500 ribu hingga Rp800 ribu, tergantung tingkat keramaian pembeli. Peningkatan ini tidak hanya membantu ekonomi keluarganya, tetapi juga menjadi cerminan geliat ekonomi masyarakat Aceh Besar yang aktif bergerak saat hari raya.
Keunikan Lampisang: Meski Tampak Sepi, Penjualan Justru Naik 20 Persen

[Pusat penjualan kue tradisional di Lampisang, Kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar, Senin (23/3/2026). Meski tampak tenang, penjualan di kawasan ini mencatat kenaikan hingga 20 persen selama masa libur Idulfitri. Foto: MC Aceh Besar]
Bergeser ke kawasan pusat kue tradisional di Lampisang, Kecamatan Peukan Bada, pemandangannya jauh berbeda. Meski arus pengunjung terlihat lebih tenang dan tidak berdesakan, para pedagang di sana justru mengaku mengalami kenaikan penjualan yang signifikan.
Seorang pedagang kue tradisional, Kak Nong, mengungkapkan bahwa meski pasar tampak sepi, minat masyarakat untuk membeli kue tetap tinggi. Peningkatan penjualan diperkirakan mencapai 20 persen dibandingkan hari biasa, terutama dalam tiga hari pertama Lebaran.
“Walaupun terlihat tidak terlalu ramai, penjualan kami justru meningkat sekitar 20 persen. Pembeli biasanya mencari bolu, adee, dan kekarah untuk buah tangan.”
— Kak Nong, Pedagang Kue Tradisional Lampisang.
Tradisi Silaturahmi Jadi Mesin Penggerak UMKM Aceh Besar
Senada dengan Kak Nong, pedagang lainnya bernama Sapura menyebutkan bahwa kehadiran tamu dari luar daerah yang memanfaatkan waktu libur Lebaran turut mendorong permintaan. Kondisi tahun ini dirasa jauh lebih baik dibandingkan momen pergantian tahun sebelumnya yang cenderung sepi pengunjung.
Momen kebersamaan Idulfitri di Aceh Besar terbukti tidak hanya mempererat tali silaturahmi antarwarga, tetapi juga menjadi peluang emas bagi pelaku usaha kecil untuk meningkatkan perekonomian daerah melalui kue-kue tradisional kebanggaan Tanah Rencong.
Keberhasilan para pedagang kue di Lambaro dan Lampisang ini menjadi sinyal positif pulihnya ekonomi sektor mikro di Aceh Besar. Harapannya, geliat manis ini tidak hanya bertahan selama momentum Lebaran, tetapi terus berlanjut guna memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat lokal ke depannya.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy