Lhokseumawe, Line1News – Deru mesin kapal dan hilir mudik para pekerja di Pelabuhan Umum Krueng Geukueh, Aceh Utara, menjadi saksi bisu sebuah langkah besar yang sempat tertunda. Setelah melalui proses persiapan yang panjang, KM Fajar 99 akhirnya selesai memuat belasan ton komoditas unggulan lokal dan siap membelah Selat Malaka menuju Malaysia.
Jika tidak ada arah melintang, kapal motor berkapasitas GT 34 tersebut dijadwalkan bertolak menuju Asa Niaga Port Klang pada Selasa, 23 Juni 2026.
Ketua Aceh Trading Committee (ATC), Zulkarnaini akrab disapa Bang Jol Paloh, mengungkapkan rasa syukur sekaligus kelegaannya setelah seluruh proses pemuatan barang rampung ia pantau langsung didampingi pihak Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas IV Lhokseumawe.
“Insya Allah, besok berlayar ke Asa Niaga Port Klang,” ujar Bang Jol Paloh dengan nada optimis kepada Line1News via telepon, Senin malam (22/6).
Menjaga Kualitas demi Nama Baik Daerah

[Suasana saat pemuatan komoditas ke KM Fajar 99 di Pelabuhan Umum Krueng Geukueh, Senin, 22 Juni 2026. Foto: Istimewa]
Keberangkatan kapal kargo regional ini sebenarnya sempat meleset dari target awal yang direncanakan pada 17 Juni lalu. Namun, bagi Bang Jol Paloh dan tim, pemunduran jadwal tersebut bukanlah sebuah kegagalan, melainkan bentuk tanggung jawab besar demi menjaga kualitas komoditas yang dibawa ke pasar internasional. Proses penyiapan barang di tingkat petani membutuhkan ketelitian ekstra agar produk yang dikirim benar-benar memenuhi standar.
“Sekarang sudah beres semua, tinggal berlayar besok. Mohon doanya, semoga lancar dan berkah,” tuturnya ramah, menyiratkan harapan besar bagi kesejahteraan para petani lokal yang menggantungkan asa pada ekspor ini.
Berdasarkan data yang diterima Line1News, KM Fajar 99 mengangkut total muatan seberat 10.310 kg (10,3 ton). Sebagian besar muatan didominasi oleh produk pertanian segar dan rempah-rempah yang menjadi andalan Tanah Rencong:
* Kelapa: 8.000 kg (186 karung)
* Kunyit: 860 kg (43 karung)
* Alpukat segar: 300 kg (11 kotak)
* Kemiri: 150 kg (3 karung)
* Mi Instan: 1.000 kg (21 karung) sebagai produk olahan pendukung.
Pelayaran perdana ini diharapkan menjadi keran pembuka bagi rute dagang yang berkelanjutan antara Aceh dan Malaysia, sekaligus membuktikan bahwa produk lokal dari tangan petani Aceh Utara dan sekitarnya mampu bersaing dan diterima di pasar global.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy