Munawar Liza Ungkap ‘Ulah’ Hamid Awaluddin Saat Perjanjian Helsinki 2005

Rapat tim perunding GAM
Rapat delegasi GAM di Hotel Hanasaari Hanaholmen Espoo pada Juli 2005, sebelum ke tempat perundingan di Koningstedt Manor, Vantaa. Foto: Dokumen Teuku Hadi via Facebook Munawar Liza Zainal

Banda Aceh – Anggota Tim Perunding GAM di Helsinki Munawar Liza Zainal mengungkap sisi lain Hamid Awaluddin, Tim Perunding RI di Helsinki, yang jarang diketahui khalayak.

Sisi lain yang dimaksud Munawar, terjadi saat tahapan perundingan MoU Helsinki di Finlandia pada 2005 silam. Hamid yang kemudian dielu-elukan masyarakat Aceh pascaperdamaian, ternyata banyak “berulah” sebelum nota kesepahaman itu diteken.

Saat itu, kata Munawar, tim perunding GAM selain negosiator adalah Irwandi Yusuf. Irwandi yang datang langsung dari medan perang di Aceh terpaksa mendekam di hotel karena tidak bisa masuk ke tempat perundingan di gedung Koningstedt Manor, Vantaa, Finlandia.

Musababnya, gara-gara Hamid Awaluddin melayangkan protes kepada Crisis Management Inisiative (CMI) sebagai negosiator. Hamid berdalih sebagai menteri bidang hukum (Menkumham RI 2004-2007) ia tidak mau duduk semeja dengan Irwandi yang disebutnya sebagai narapidana yang melarikan diri dari penjara.

“Padahal Irwandi tidak melarikan diri, penjara [Keudah] yang ‘lari’ karena diruntuhkan oleh tsunami,” tulis Munawar di akun Facebook-nya, dikutip Line1.News, Kamis, 19 Juni 2025.

Selain itu, kata Munawar, semua perunding dari Aceh saat itu ditangkap sehingga perundingan Tokyo gagal. Pimpinan GAM kemudian mengundang dirinya, Damien Kingsbury dari Australia, Shadia Marhaban dari Amerika Serikat, dan Teuku Hadi dari Jerman, untuk memperkuat Tim Perunding GAM.

Pada putaran perundingan sebelumnya, kata Munawar, juga diundang William Nessen dari Amerika, Vacy Vlazna dari Australia, dan Professor Ramasamy dari Malaysia.

“Damien Kingsbury dan William Nessen sendiri sebagai akademisi dan jurnalis, menjadi advisor GAM, sampai hari ini masih tidak bisa masuk ke Indonesia, salah satu penyebabnya, perunding RI kesal karena mereka berdua membantu GAM,” ungkap Wali Kota Sabang 2007–2012 itu.

Kemarin, Munawar diundang berbicara di acara Indonesia Lawyer Club (ILC) di TVOne yang dipandu Karni Ilyas. Topiknya tentang keputusan Presiden Prabowo yang membatalkan keputusan Mendagri terkait empat pulau di Aceh Singkil.

Hamid Awaluddin juga menjadi narasumber acara, termasuk Wamendagri Bima Arya. Hadir juga Anggota DPR RI asal Aceh Nasir Djamil.

Saat Karni menyilakan Munawar berbicara sebagai ‘Anggota Tim Perunding GAM’, Hamid yang eks Menteri Hukum dan HAM RI itu menyela dengan menanyakan siapa Munawar Liza.

“Bapak tadi tim apa di Helsinki? Soalnya saya tidak pernah lihat Bapak selama perundingan, jadi boleh saya tanya di mana Bapak waktu itu,” ujar Hamid dilihat dari kanal YouTube ILC.

Menurut Hamid, ada lima orang anggota tim perunding. Terpaksa Munawar mengoreksi kalau ia adalah anggota bukan Tim Perunding GAM.

“Itu tim perunding, kemudian ada anggotanya yang lain, saya, Damien Kingsbury, Shadia Marhaban, Irwandi Yusuf, dan Teuku Hadi. Anggota tim satu gedung di Koningstedt Manor, dan dalam beberapa pertemuan kita sering ketemu juga. Jadi ada lima perunding dan ada anggota tim perunding,” ujar Munawar.

“Waktu diskusi di kementerian luar negeri, kita duduk berdampingan,” imbuhnya kepada Hamid. Diskusi dimaksud saat Hamid dan Munawar menjadi narasumber terkait perdamaian GAM-RI, untuk pembekalan para diplomat perempuan Asean.

Di tayangan ILC, Hamid Awaluddin juga menyalahkan Gubernur Irwandi Yusuf. Hamid menyebutkan di masa Irwandi keempat pulau itu tidak dimasukkan ke dalam peta Aceh.

“Saya tidak mau bantah lagi, sebab semakin tua umur seseorang, semakin banyak yang dilupakan,” ujar Munawar.

Terlepas dari ILC, saat di Helsinki, Munawar melihat Hamid dalam berbagai kesempatan kerap menyepelekan perunding GAM.

“Khususnya M Nur Djuli, sebab banyak olahan dan tipu-tipunya selama perundingan dipatahkan oleh Om Nur,” ungkapnya.

Mengutip Buku Abu Doto, Perjuangan Tanpa Akhir, sebelum Nota Kesepahaman ditandatangani, perundingan di Helsinki berlangsung dalam enam putaran selama 24 hari.

Putaran pertama berlangsung sejak 27 hingga 29 Januari 2025. Delegasi RI diwakili Hamid Awaluddin, ada Menteri Komunikasi Sofyan Djalil, Farid Husain, Usman Basyah, dan I Gusti Agung.

Sementara Delegasi GAM terdiri dari Malik Mahmud sebagai ketua, lalu Zaini Abdullah atau Abu Doto, Bachtiar Abdullah, Nurdin Abdul Rahman, dan Nur Djuli.

Perundingan pertama digelar di Konigstedt Manor, sekira 30 kilometer dari gedung Smolna Government Naquet di Distrik Kaartinkaupunki. Namun, di Smolna-lah naskah MoU Helsinki nantinya diteken.

Kini, setelah 20 tahun perdamaian Aceh, Munawar melihat banyak poin MoU Helsinki belum dilaksanakan.

“Tidak terlihat Hamid dkk membantu dengan maksimal untuk merealisasikannya sebagai tanggung jawab moral perunding RI,” ujarnya.

Bahkan, kata Munawar, justru kalau Hamid dan tim perunding RI datang ke Aceh, sering sekali dielu-elukan.

“Sedangkan tim perunding Aceh dilupakan, sehingga mereka berjuang sendiri dengan kemampuan masing-masing di sudut sepi untuk mengawal MoU Helsinki,” tuturnya.

Menurutnya, perdamaian Aceh bukanlah “jasa” dari Jusuf Kalla, Hamid Awaluddin, atau lainnya.

“Pihak Jakarta selalu menaikkan bahu, seolah berkata karena ‘akulah’ ada damai. Padahal dulu, dengan segala cara mereka memotong kaki GAM dan rakyat Aceh, biar tidak ada damai, supaya rakyat Aceh menyerah. Dengan ridha Allah, damai ini berhasil karena komitmen rakyat Aceh menerima dan mendoakan damai.”[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy