Meulaboh – Aceh Barat telah lama dikenal sebagai wilayah yang menyimpan perpaduan harmonis antara keindahan alam dan kedalaman tradisi. Berdasarkan arsip Official Guide of the Special Province of Aceh (tahun 1994/1995), dikutip Line1.News pada Minggu, 29 Maret 2026, mari kita menengok kembali wajah pariwisata dan budaya Aceh Barat tiga dekade silam yang pernah menjadi primadona bagi wisatawan.
Meulaboh: Kota Pelabuhan yang Menawan
Pada era 90-an, Meulaboh dipromosikan sebagai kota pelabuhan yang memikat. Geografi unik di mana pegunungan terjal bertemu langsung dengan dataran pantai menjadikannya salah satu pemandangan pesisir tercantik di dunia.
Wisatawan kala itu dimanjakan dengan penginapan tepi laut di sepanjang pantai berpasir putih, lengkap dengan aktivitas luar ruangan seperti memancing, berperahu, hingga penjelajahan hutan hujan.
Jejak Sejarah dan Religi: Penghormatan bagi Sang Pahlawan
Sebagai tanah para pejuang, situs sejarah menjadi destinasi sakral sekaligus edukatif di Aceh Barat:
Monumen & Makam Teuku Umar: Monumen perjuangan di Desa Suak Ribee (Batu Putih) menjadi simbol perlawanan terhadap Belanda. Sementara itu, Makam Teuku Umar di Desa Meugo (40 km dari Meulaboh) menjadi pusat ziarah utama yang ramai dikunjungi masyarakat, terutama saat hari libur.
Makam Po Teumeureuhom: Makam ini terletak di Desa Kuala Daya, berjarak sekitar 170 km dari Meulaboh dan sekitar 90 km dari Banda Aceh. Desa ini dapat dijangkau dengan bus umum dan transportasi lainnya. Ada ungkapan yang terkenal sejak masa lalu hingga kini, “Adat Bak Po Teumeureuhom, Hukom Bak Syiah Kuala“.
Deretan Pantai Eksotis: Surga Pasir Putih

[Pantai Lagen di Aceh Barat. Foto: tangkapan layar arsip Official Guide of the Special Province of Aceh 1994/1995/Line1News]
Aceh Barat tahun 90-an adalah tentang garis pantai yang masih asri dan tenang:
Pantai Ujong Kareung & Peunaga: Hanya berjarak 2-4 km dari pusat kota, kedua pantai ini menjadi lokasi rekreasi favorit untuk berenang dan memancing. Di Pantai Peunaga, wisatawan bisa menikmati sunset menakjubkan di antara deretan rumah nelayan tradisional.
Pantai Seunagan: Terletak 20 km dari Meulaboh, pantai ini menawarkan pengalaman unik di mana pengunjung bisa melihat langsung cara nelayan setempat menangkap ikan dengan metode tradisional yang autentik.
Lhok Geulumpang: Menjadi destinasi pelarian akhir pekan yang populer bagi warga yang menempuh perjalanan menuju Banda Aceh untuk sekadar bersantai dan menikmati aktivitas luar ruangan.
Pesona Alam: Dari Puncak Geurutee hingga Geunang Geudong
Perjalanan menuju Aceh Barat tidak lengkap tanpa melewati Gunung Geurutee. Jalanan berkelok di sisi gunung ini menawarkan pemandangan spektakuler dari puncak bukit: deburan ombak yang menerpa bebatuan serta gugusan pulau kecil di tengah hamparan laut biru yang luas.
Selain laut, terdapat pula Geunang Geudong di Desa Putim. Sesuai namanya (Geunang berarti kolam ikan), tempat ini dibangun dengan desain tradisional dan menjadi spot rekreasi darat yang tenang dan asri.
Kekayaan Seni dan Sulaman Benang Emas
Masyarakat Aceh Barat dikenal menjunjung tinggi norma adat yang tercermin dalam keseniannya, seperti Tari Ranub Lampuan sebagai penyambutan tamu, Rapai Geleng yang dinamis, hingga Tari Pho yang penuh haru dalam upacara adat.
Tak lupa, kerajinan Sulaman Benang Emas (Kasap) menjadi buah tangan ikonik. Teknik sulaman tiga dimensi ini menghasilkan karya indah mulai dari hiasan dinding hingga kipas hias yang memperlihatkan ketelatenan luar biasa pengrajin lokal.
Potret Aceh Barat tahun 1994/1995 ini memperlihatkan bahwa jauh sebelum pariwisata modern berkembang pesat, Bumi Teuku Umar telah memiliki magnet kuat melalui keindahan alam, sejarah perjuangan, dan kearifan lokal yang tidak lekang oleh waktu.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy