Saat Rakyat Menjadi “Musuh” Terbesar di Akhirat

tanggung jawab seorang pemimpin
Ilustrasi pemimpin. Foto: hiasan 123rf

Di bawah langit Makkah yang terik, Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik berdiri di puncak sebuah bukit. Di sampingnya, berdiri sosok zuhud yang kelak sejarah mengenalnya sebagai “Khalifah Kelima”, Umar bin Abdul Aziz. Dari ketinggian itu, sejauh mata memandang, hamparan manusia dari berbagai penjuru dunia—dengan segala warna kulit dan bahasa—berkumpul menunaikan haji.

Menyaksikan lautan manusia yang berada di bawah otoritasnya, dada Sulaiman membusung. Ada getar kebanggaan yang menyelinap. Dengan nada takjub, ia menoleh pada Umar, “Lihatlah wahai Umar, betapa banyak rakyat yang berada di bawah kepemimpinanku saat ini!”

Namun, alih-alih pujian, Umar memberikan jawaban yang meruntuhkan keangkuhan. “Benar, wahai Khalifah. Hari ini mereka adalah rakyatmu. Namun sadarilah wahai saudaraku, kelak di hadapan Allah, mereka semua akan berubah menjadi ‘musuhmu’. Mereka akan berbaris menuntut pertanggungjawabanmu di Hari Kiamat.”

Seketika, lutut sang Khalifah lemas. Wajahnya yang semula cerah berubah pucat pasi. Ruang dadanya sesak oleh bayangan pengadilan ilahi yang tak mungkin dihindari. Di puncak bukit itu, sang penguasa dunia hanya bisa terisak dalam tangis yang pilu.

Kisah di atas bukan sekadar fragmen sejarah, melainkan cermin retak bagi siapa pun yang saat ini memegang amanah. Di tengah hiruk-pukuk perebutan kuasa, kita sering lupa bahwa jabatan bukan sekadar fasilitas, melainkan beban yang menguras air mata. Ada dua ibrah besar yang patut kita renungkan:

1. Bahaya “Pembisik” yang Meninabobokan

Kearifan seorang pemimpin seringkali merupakan pantulan dari orang-orang di sekelilingnya. Sulaiman bin Abdul Malik beruntung memiliki Umar bin Abdul Aziz—seorang sahabat yang berani “menamparnya” dengan kebenaran di saat ia sedang mabuk kekuasaan.

Pemimpin butuh cermin, bukan sekadar gema. Alangkah malangnya pemimpin yang dikelilingi para “penjilat” bermental setan; mereka yang hanya memberi laporan asal bapak senang (ABS), menutup-nutupi borok ketidakadilan, dan siap pasang badan demi mengamankan kepentingan pribadi. Tanpa penasihat yang jujur, seorang pemimpin sedang berjalan menuju jurang kehancuran sambil tersenyum.

2. Ilusi Angka dan Kuantitas

Di era modern, keberhasilan pemimpin sering diukur dari statistik: jumlah pengikut, luasnya hegemoni, atau tingginya angka elektabilitas. Namun, bagi Allah, banyaknya rakyat berarti banyaknya beban hisab.

Kepemimpinan bukan sekadar urusan administratif di dunia, melainkan kontrak ukhrawi yang sangat berat. Pemimpin yang hanya mengejar kuantitas namun abai pada kualitas kesejahteraan rakyatnya, sejatinya sedang mengumpulkan “musuh” untuk hari akhir. Rakyat yang hari ini mencium tangannya atau meneriakkan namanya, bisa jadi adalah orang pertama yang akan “menarik kerah bajunya” di hadapan Allah kelak.

Menjadi pemimpin berarti siap menjadi pelayan. Sebab, pada akhirnya, kekuasaan yang tidak dipertanggungjawabkan dengan adil hanya akan menyisakan penyesalan panjang di hari saat tak ada lagi jabatan yang bisa membela.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy