Washington – Pemerintah Amerika Serikat (AS) saat ini menyimpan mata uang kripto Bitcoin (BTC) dalam jumlah besar dan memiliki izin untuk menjualnya.
Melansir finbold.com, Bitcoin yang dimiliki pemerintah ini sebagian besar berasal dari penyitaan di situs Silk Road yang ditutup pada 2013.
Situs itu menjadi pasar penjualan narkoba perangkat peretas, hingga paspor curian menggunakan Bitcoin. Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut telah memberikan pengampunan penuh kepada Ross Ulbricht, pendiri Silk Road.
Data Arkham Intelligence, Pemerintah AS memiliki 198.109 BTC. Angka ini menjadikannya sebagai salah satu pemegang Bitcoin terbesar di dunia.
Namun, jumlah tersebut lebih sedikit dibandingkan perusahaan seperti MicroStrategy milik Michael Saylor, yang menguasai sekitar 450.000 BTC.
Isu penjualan Bitcoin Pemerintah AS sempat mencuat ketika beberapa laporan menunjukkan adanya aktivitas penjualan BTC. Namun, setelah diteliti lebih lanjut, tidak ada penjualan signifikan yang dilakukan Pemerintah AS sejauh ini.
Berbeda dengan perusahaan yang aktif membeli dan memperdagangkan Bitcoin, Pemerintah AS cenderung memilih menyimpan aset ini, atau dikenal dengan istilah ‘HODL’.
Dilansir dari Investing.com, Biro Investigasi Federal (FBI) dan Departemem Kehakiman AS (DoJ) memiliki izin menjual Bitcoin yang disita tersebut. Namun, mereka tampaknya masih berhati-hati untuk tidak menjualnya.
Saat ini, harga Bitcoin sedang naik tajam. Hingga Sabtu, 25 Januari 2025, harga BTC mencapai USD 106.118 atau Rp1,7 miliar per keping.
Langkah Pemerintah Amerika mempertahankan Bitcoin tampaknya sejalan dengan visi Presiden Terpilih Donald Trump. Selama kampanye pemilihannya, Trump menyatakan Bitcoin yang disita akan disimpan sebagai bagian dari cadangan strategis nasional.
Kebijakan ini memicu diskusi hangat di kalangan investor dan trader kripto. Para pendukung kripto percaya Bitcoin bisa menjadi aset penting karena nilainya yang terus meningkat. Sementara para kritikus mengingatkan resiko volatilitas dan tantangan regulasi.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy