Gaza – Federasi Jurnalis Internasional (IFJ) menyebutkan jumlah wartawan yang tewas saat meliput serangan Israel selama 10 bulan di Gaza, lebih banyak dibandingkan profesi sipil lainnya.
IFJ melihat militer Israel secara sengaja menjadikan wartawan sebagai sasaran.
“Angka kematian di kalangan jurnalis jauh lebih tinggi dibandingkan dengan profesi sipil lainnya. Bahkan, dengan lebih dari 12 persen jurnalis Gaza yang meninggal, angka kematian ini akan menjadi angka yang sangat tinggi bagi prajurit infanteri,” ujar Tim Dawson, Wakil Sekretaris Jenderal IFJ kepada Anadolu Agency.
Teranyar pada 10 Agustus, Tamim Ahmed Abu Muammer dari Palestine Television dan Abdullah Mahir Al-Susi dari Al-Aqsa Channel, tewas dalam serangan Israel.
Dawson mengatakan tindakan Israel melanggar hukum humaniter internasional dan hukum perang.
“Sejak konflik dimulai, lebih dari 100 wartawan telah kehilangan nyawa. Menurut perkiraan saya, jumlahnya sekitar 120, tetapi ada berbagai cara untuk mengukurnya, dan beberapa orang memperkirakan jumlahnya jauh lebih tinggi.”
Ia juga menyoroti sistem pengawasan dan penargetan canggih Israel, seperti Lavender, Gospell dan Pegasus. Perangkat-perangkat ini menimbulkan kekhawatiran soal penargetan secara sengaja oleh militer Israel.
“Kami tahu bahwa [tentara] Israel memiliki perangkat lunak yang sangat canggih yang dapat melacak orang, yang dapat memprogram pesawat tanpa awak untuk mengirimkan kematian ke alamat tertentu,” kata Dawson.
Selain pembunuhan, Dawson mengkritik penyensoran media oleh Israel di Gaza, dengan menyebutnya sebagai “upaya untuk mengendalikan narasi”.
“Mereka melarang wartawan asing masuk ke Gaza. Wartawan asing telah mengajukan petisi berulang kali agar diizinkan masuk, tetapi ditolak. Pemerintah Israel mempersulit media yang memiliki pandangan sedikit berbeda dengan mereka tentang konflik yang sedang berlangsung.”
Jurnalis asing telah berulang kali ditolak masuk. Bahkan media sekaliber Al Jazeera telah diusir dari Israel.
Dawson menekankan perlunya akses media tanpa batas ke Gaza dan dukungan bagi jurnalis yang bekerja dalam kondisi berbahaya.
IFJ, kata dia, telah mengajukan pengaduan ke Pengadilan Kriminal Internasional (ICC), dengan tuduhan penargetan Israel terhadap jurnalis mungkin merupakan kejahatan perang.
Dawson menekankan pentingnya investigasi internasional menyeluruh untuk meminta pertanggungjawaban Israel.
Sejak 7 Oktober 2023, serangan Israel di Gaza telah merenggut nyawa 168 jurnalis dari berbagai negara.
Di antara korban yang tewas termasuk jurnalis foto Anadolu Agency, Ali Jadallah. Ali dan keluarganya tewas dalam serangan di rumahnya. Sedangkan juru kamera lepas, Muntasir Al-Sawaf, tewas dalam serangan udara.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy