Hingga 6 April 2026

Satgas PRR: Realisasi Bansos Pascabencana untuk Aceh Rp366 M

Kasatgas PRR Tito tinjau Aceh Tamiang
Mendagri sekaligus Kasatgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatra, Muhammad Tito Karnavian, meninjau kondisi pengungsi di Aceh Tamiang, Sabtu (4/4/2026). Foto: Dok. Satgas PRR

Banda Aceh – Realisasi bantuan sosial (bansos) untuk pemulihan penyintas banjir dan longsor di Aceh disebut telah menembus angka Rp366,2 miliar hingga 6 April 2026.

Angka tersebut mendominasi total bansos telah disalurkan Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatra yang secara keseluruhan mencapai Rp483,9 miliar. Artinya, lebih dari 75 persen anggaran pusat untuk tiga provinsi (Aceh, Sumut, Sumbar) terserap di Aceh.

“Aceh mencatatkan realisasi tertinggi dengan penyaluran menjangkau 47.483 jiwa dan total dana tersalurkan mencapai Rp366.298 miliar,” tulis Satgas PRR dalam keterangan resmi, dilansir Antara, Kamis, 9 April 2026.

Rincian Bantuan

Bantuan yang dikucurkan pemerintah tidak hanya menyasar perbaikan fisik, tetapi juga untuk menjaga daya beli masyarakat agar ekonomi lokal kembali berputar.

Berikut rincian skema bantuan yang diterima penyintas bencana:

Jaminan Hidup (Jadup): Rp15.000 per jiwa/hari selama tiga bulan.

Bantuan Isi Hunian: Rp3 juta per Kepala Keluarga (KK).

Stimulan Sosial & Ekonomi: Rp5 juta per keluarga.

Selain itu, khusus bagi warga yang tidak tinggal di hunian sementara (huntara), pemerintah memberikan Dana Tunggu Hunian (DTH) sebesar Rp600.000 per bulan selama tiga bulan.

Di Aceh, tercatat ada 8.709 penerima DTH yang laporannya disebut sudah mencapai realisasi transfer 100 persen.

Komitmen Kasatgas di Aceh Tamiang

Sebelumnya, saat meninjau para penyintas di Kabupaten Aceh Tamiang, Ketua Satgas PRR, Muhammad Tito Karnavian, menegaskan bantuan ini diberikan secara paralel dengan pembangunan hunian tetap (huntap).

Tito memastikan warga tidak perlu cemas selama proses pembangunan rumah mereka berlangsung. “Selama huntap belum jadi, masyarakat jangan khawatir, karena ada huntara. Nanti, dana uang lauk pauk sebesar Rp15.000 per orang per hari tetap jalan terus. Kalau huntap belum jadi tiga bulan, tetap saja akan (dilanjutkan) diberikan,” ujar Tito saat berada di Desa Sekumur, Sekerak, Aceh Tamiang, Sabtu (4/4).

Langkah percepatan ini diharapkan mampu mengembalikan stabilitas ekonomi warga Aceh yang terdampak bencana.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy