Duka Banjir Aceh

Banyak Rumah Alur Manis Hilang, Pengungsian 3 Titik, dan Datok Bersitegang dengan Orang Perusahaan

Alur Manis diterjang banjir bandang
Banjir bandang menerjang Kampung Alur Manis, Kecamatan Rantau, Aceh Tamiang, Rabu, 26 November 2025. Banyak rumah warga desa itu hilang disapu banjir. Lebih 600 kepala keluarga kini mengungsi tersebar di tiga titik. Foto: Istimewa

Karang Baru – Banyak rumah warga Kampung Alur Manis, Kecamatan Rantau, Aceh Tamiang, dilaporkan hilang disapu banjir bandang pada Rabu, 26 November 2025. Hingga kini lebih dari 600 kepala keluarga atau sekitar 2.000 jiwa korban banjir di Alur Manis mengungsi tersebar di tiga titik.

Video dan foto diperoleh Line1.News dari warga asal Aceh Tamiang, menunjukkan banjir besar hingga setinggi atap rumah-rumah warga Alur Manis. Ada pula rumah warga desa itu yang hancur rata dengan tanah yang kini berlumpur sisa banjir.

“Data sementara, hampir 50 rumah yang hilang. [Jumlah rumah rusak berat] enggak [belum] bisa dihitung, banyak sekali, ratusan,” kata Datok Penghulu Kampung Alur Manis, Fakhrizal, dihubungi Line1.News via telepon, Jumat siang, 5 Desember 2025.

Baca juga: Kuala Simpang Bak Film Horor, Mobil Tangki Menindih Truk, Bau Busuk Menyengat di Antara Sisa Lumpur

Fakhrizal menyebut salah seorang warganya meninggal dunia di tempat pengungsian. “Satu orang di pengungsian meninggal dunia, karena [lokasi] pengungsian pindah-pindah, kena air, pindah lagi, sampai tiga kali pindah,” ungkapnya.

Menurut dia, jumlah kepala keluarga di Alur Manis lebih dari 650 KK atau sekitar 2.000 jiwa. “98 persen mengungsi,” ujar Fakhrizal.

Saat ini, kata Fakhrizal, masyarakat Alur Manis mengungsi di tiga titik. Yakni, di SMAN 1 Rantau di Kampung Kebun Rantau; Di Kompleks PT Betami, juga di Kampung Kebun Rantau; dan di Kompleks PT BSG di Kampung Alur Manis.

Sempat Bersitegang dengan Orang PT BSG

Fakhrizal menceritakan, ia sempat bersitegang dengan oknum pengawas lapangan PT BSG pada hari kedua terjadinya banjir bandang.

“Hari pertama [terjadi banjir], kita sudah minta izin sama pihak sekuritinya [untuk masyarakat mengungsi di PT BSG], sudah dikasih. Cuma [orang] kepercayaannya [perusahaan] itu agak ego, dengan alasan nanti takut barang mereka hilang, saya harus ganti rugi,” ungkap Fakhrizal.

Fakhrizal melanjutkan, “Saya bilang, hari ini kami lagi bencana, musibah, kami harus dapat [lokasi dataran] ketinggian [untuk mengungsi]. Jangan pikirkan [barang] hilang, ini nyawa. Pengungsi butuh tempat yang aman”.

Akan tetapi, kata Fakhrizal, pengawas lapangan yang diperkirakan sebagai orang kepercayaan di PT BSG itu, malah mengatakan bahwa yang mengungsi bukan saudaranya.

“Bukan saudara saya, katanya. Itu yang membuat saya naik pitam. Dia pun makin keras suaranya, macam hebat kali. Aduh, sedih kali saya,” kenang Fakhrizal.

[Penampakan rumah warga yang hancur diterjang banjir bandang di Kampung Alur Manis, Kecamatan Rantau, Aceh Tamiang. Foto: Istimewa]

Masih Berlumpur hingga Cari Bantuan ke Langsa

Fakhrizal juga menyampaikan kondisi terkini di Alur Manis. “Pascabanjir sudah surut, rumah-rumah banyak yang belum kering, masih ada air dan lumpur tebal, 60-70 cm,” tuturnya.

Terkait kebutuhan logistik untuk pengungsi, Fakhrizal menjelaskan ketika Aceh Tamiang masih terisolir akibat banjir, pemerintah memasok bantuan lewat udara menggunakan helikopter.

“Yang lainnya, pascabanjir, kami ambil di Posko BPBD Aceh Tamiang. Pascabanjir ada dibantu juga dari PT Pertamina,” ujar Fakhrizal.

Baca juga: Mualem Bagikan Bantuan dalam Gelap Malam, Kureng Ceritakan Dahsyatnya Banjir Aceh Tamiang

Namun, bantuan yang diterima para pengungsi masih terbatas. Sehingga Fakhrizal berusaha mencari bantuan hingga ke Kota Langsa pada Jumat (5/12).

“Hari ini ke Langsa untuk meminta bantuan sembako di mana bisa, [melalui] kolega, [atau siapa pun] yang bisa bantu,” ujarnya.

Fakhrizal menambahkan, “Inikan pascabanjir, kita mencoba menghubungi teman-teman yang bisa bantu, karena memang lagi kritis kali warga [di pengungsian]”.

Ancaman ISPA

Fakhrizal mengakui ada pengungsi yang mulai sakit. “Cuma yang kita jaga ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut), karena pascabanjir ini masih banyak lumpur, dan banyak debu,” ungkapnya.

Menurut Fakhrizal, tenaga medis maupun bantuan obat-obatan belum sampai ke tempat pengungsian. “Belum ada,” ucapnya.

Dia berharap pemerintah segera menugaskan tim medis dan membawa obat-obatan ke titik pengungsian korban banjir.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy