Pecahkan Rekor Sejarah! Gelombang Protes ‘No Kings’ Ketiga Guncang AS, dari Krisis Iran hingga Harga Susu

Lautan manusia dalam aksi No Kings di depan Capitol, menuntut perubahan kebijakan ekonomi dan penghentian konflik luar negeri.
Warga Amerika Serikat tumpah ruah ke jalanan untuk memprotes pemerintahan Presiden Donald Trump dalam demonstrasi bertajuk No Kings. Foto: Anadolu via Antara

Washington – Gelombang massa tak terbendung menyapu seluruh penjuru Amerika Serikat pada Sabtu (waktu setempat), 28 Maret 2026. Jutaan orang diperkirakan turun ke jalan dalam aksi nasional bertajuk “No Kings” (Tidak Ada Raja) jilid ketiga, sebuah gerakan masif yang menjadi potret nyata penolakan publik terhadap pemerintahan Donald Trump.

Aksi ini tidak hanya pecah di satu titik, melainkan serentak di 50 negara bagian AS serta merembet ke 16 negara lainnya. Dengan lebih dari 3.000 titik demonstrasi yang dikoordinasikan oleh kelompok Indivisible, 50501, hingga serikat pekerja, protes ini tercatat sebagai salah satu aksi paling terkoordinasi dalam sejarah Amerika.

Sentimen Publik Anjlok, Pendukung Mulai Berpaling

Gerakan ini meledak di tengah merosotnya tingkat kepuasan publik terhadap Trump. Menariknya, keresahan ini tidak lagi hanya datang dari pihak oposisi, tetapi juga menjalar ke basis pendukung garis keras yang mulai merasa frustrasi dengan arah kebijakan negara.

Ada “badai” masalah yang menjadi pemantik amarah warga, di antaranya:

  • Ketegangan Global: Konflik dengan Iran yang menewaskan 13 personel militer AS.
  • Krisis Ekonomi: Lonjakan harga minyak dan tarif impor yang mencekik harga barang sehari-hari.
  • Kelumpuhan Birokrasi: Antrean pemeriksaan keamanan di bandara yang mengular akibat kebuntuan anggaran.

Dari Minnesota hingga Washington DC

Menurut Washington Post, di Minnesota, ribuan orang memadati Gedung Capitol. Pendiri ormas Indivisible, Ezra Levin, menyebutnya sebagai “protes terbesar dalam sejarah Minnesota.”

Sementara di Washington DC, suasana di Lincoln Memorial mendadak haru sekaligus tegas. Sejumlah ibu dari Palestina mengibarkan bendera raksasa sebagai bentuk protes atas penggunaan pajak warga AS untuk pendanaan perang di luar negeri.

“Banyak rakyat Amerika bahkan tidak bisa membayar sewa rumah atau membeli susu, sementara uang pajak kita digunakan untuk menyubsidi kekerasan,” ujar Hazami Barmada (43), salah satu pengunjuk rasa, sebagaimana dilaporkan The Guardian.

Siaga Tinggi dan Aksi Tandingan

Meskipun koalisi “No Kings” menekankan aksi damai tanpa senjata, tensi sempat memanas di beberapa lokasi. Menurut CNN, di West Palm Beach, Florida, sekitar 50 pendukung Trump dari kelompok “Proud Boys” sempat berhadapan langsung dengan massa pengunjuk rasa.

Pihak penyelenggara kini ekstra waspada dan menerapkan latihan deeskalasi konflik yang ketat. Hal ini dilakukan guna menghindari terulangnya tragedi berdarah pada Juni 2025 di Salt Lake City, di mana satu orang tewas akibat insiden penembakan saat unjuk rasa berlangsung.

Hingga berita ini diturunkan, gelombang massa “No Kings” masih terus menyuarakan tuntutan mereka, menandai titik balik penting dalam peta politik Amerika Serikat tahun ini.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy